Teror Bom Bunuh Diri, Ansor Sumbar: Itu Sesat dan Menyesatkan

AI Mangindo Kayo | Selasa, 15-05-2018 | 22:11 WIB | 248 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Teror Bom Bunuh Diri, Ansor Sumbar: Itu Sesat dan Menyesatkan<p>Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat, Rahmat Tuanku Sulaiman. (istimewa)

VALORAnews - Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya Ahad lalu, memang mengejutkan. Hal itu semakin menunjukkan doktrin yang amat keliru memahami agama semakin nyata di tengah masyarakat.

"Apa pun alasannya, tindakan bom bunuh diri adalah sesat dan menyesatkan. Kita menyayangkan pelaku yang sehari-hari menggunakan atribut agama, contohnya jilbab," ungkap Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat, Rahmat Tuanku Sulaiman, dalam siaran pers yang diterima, Senin (14/5/2018).

Menurut Rahmat, dengan pakaian seorang muslimah, dirinya menunjukkan bahwa seorang muslimah tidak takut melakukan bom bunuh diri, tindakan kekerasan hingga menewaskan orang lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


"Padahal, tidak ada satu ayat pun dalam al Quran dan hadist nabi Muhammad SAW yang menyuruh umatnya melakukan bom bunuh diri atau melakukan pembunuhan terhadap orang lain tanpa ada bukti yang sah melakukan kesalahan," kata Rahmat, kandidat doktor ini.

Dikatakan Rahmat, paham radikal dan kekerasan akan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Orang belajar membuat bom, tidak perlu lagi kursus berhadap-hadapan dengan pihak yang memiliki ilmu pengetahuan cara membuat bom.

"Dari kamar rumah sendiri, seseorang bisa belajar merakit bom melalui internet. Selanjutnya, pelaku yang sudah terdoktrin jalan pintas masuk sorga dengan jihad, membunuh orang "kafir", melawan pemerintahan kafir maupun membunuh aparat negara," terangnya.

"Mereka melakukan aksi dengan dalih agama Islam," kata Rahmat, alumni Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman ini.

Menurut Rahmat, antisipasi yang perlu dilakukan salah satunya adalah meningkatkan pemahaman agama yang benar di lingkungan keluarga, tetangga dan pertemanan. Namun, jika kepala keluarga sendiri yang sudah terdoktrinasi paham radikal, anggota keluarga yang lain harus diberikan pemahaman Islam yang anti radikal. Seperti kasus di Surabaya, orangtuanya yang melibatkan anak untuk melakukan bom bunuh diri.

Terkait pernyataan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang mengutuk keras peledakan tiga bom Geraja di Surabaya melalui pesan whatsapp, pihaknya sudah meneruskan kepada jajaran pengurus di tingkat wilayah, cabang dan kader di bawahnya.

"Kita minta semua kader Ansor di Sumatera Barat untuk tetap waspada dan meningkatkan silaturrahmi di lingkungannya. Sehingga dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," tutur Rahmat. (rls/kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Ranah lainnya
Berita Provinsi Sumatera Barat lainnya