Ini Analisa BMKG Terkait Pemicu Tsunami Banten

AI Mangindo Kayo | Senin, 24-12-2018 | 19:36 WIB | 216 klik | Nasional
<p>Ini Analisa BMKG Terkait Pemicu Tsunami Banten<p>Ilustrasi.

VALORAnews - Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menegaskan, tsunami yang melanda selat Sunda, diakibatkan longsor anak Gunung Krakatau. Material yang longsor seluas 64 Ha.

"Dari citra satelit, sangat jelas kenampakan sebelum dan sesudah tsunami tampak ada area yang longsor (hilang). Material longsoran ini, membuat getaran yang tercatat seismograph BMKG di Banten dan Lampung. Dari hasil Analisa BMKG, material longsoran ini setara dengan kekuatan gempa 3.4 SR," ungkap Rahmat dalam pesan whatsappnya.

Dalam siaran pers bersama BMKG dan pihak terkait kebencanaan dijelaskan, bencana di Selat Sunda masuk kategori bencana multievent yang diakibatkan faktor gelombang tinggi, tsunami, erupsi gunung api dan longsor tebing kawah Gunung Anak Krakatau yang akhirnya memicu tsunami.


BMKG dalam siaran pers bersama itu dinyatakan siap untuk mem-back-up peringatan dini tsunami akibat langsung ataupun tidak langsung dari erupsi gunung api yang dipantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (Badan Geologi), sehingga BMKG perlu untuk mendapat akses data gempa-gempa vulkanik yang ada di sistim peringatan dini Pusat Vulkanologi

Dalam siaran pers itu disebutkan, pada 23 Desember 2018, pukul 18.30-21:00 telah dilaksanakan rapat koordinasi dengan agenda pembahasan kejadian tsunami 22 Desember 2018 di Selat Sunda, dengan peserta rapat Kemenko Maritim, BMKG, BIG, BPPT, LIPI, dan Badan Geologi ESDM.

Berdasarkan data-data yang dihimpun dihasilkan kesepakatan bersama, yaitu BMKG memperoleh data tide-gauge sekitar pukul 22.00 WIB. Ada 4 tide gauge di Selat Sunda mencatat adanya anomali permukaan air laut yang diyakini sebagai tsunami.

Tsunami yang terjadi bukan disebabkan gempabumi tektonik, namun akibat longsor (flank collapse) di lereng Gunung Anak Krakatau akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kejadian longsor lereng Gunung Anak Krakatau tercatat di sensor seismograph BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJI) pada pukul 21.03 WIB, juga beberapa sensor di Lampung (LWLI, BLSI), Banten (TNG/TNGI, SBJI), Jawa Barat (SKJI, CNJI, LEM).

Hasil analisa rekaman seismik (seismogram) dari longsoran lereng Gunung Anak Krakatau setelah dianalisa oleh BMKG setara dengan kekuatan MLv 3.4, dengan episenter di Gunung Anak Krakatau.

penyebab lepasnya material di lereng anak krakatau dalam jumlah banyak adalah tremor aktivitas vulkanik dan curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut.

Bukti-bukti yang mendukung bahwa telah terjadi longsoran di lereng Gunung Anak Krakatau sebagai akibat lanjut dari erupsi Gunung Anak Krakatau yakni deformasi Gunung Anak Krakatau berdasarkan perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah tsunami yang memperlihatkan 64 ha lereng baratdaya Gunung Anak Krakatau runtuh.

Kemudian, curah hujan tinggi pada perioda waktu yang berdekatan dengan tsunami, model inversi 4 tide-gauge yang memperlihatkan bahwa sumber energi berasal dari selatan Anak Krakatau, riset BPPT dan Universitas Blaise Pascal, Perancis yang dipublikasikan pada jurnal internasional.

Meteotsunami

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI yang juga Peneliti Paleotsunami dan Kebencanaan, Eko Yulianto menerangkan, meteotsunami sangat terkait dengan fenomena gangguan cuaca. Sayangnya, cuaca di Indonesia sudah sedemikian tidak menentu sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim.

"Angin puting beliung yang dulu sangat jarang terjadi menjadi sangat sering melanda wilayah Indonesia, bukan saja di musim penghujan tapi juga di musim kemarau," terangnya.

Dari sudut pandang ancaman meteotsunami di Indonesia, peningkatan frekuensi gangguan cuaca yang cukup sering ini sudah semestinya disikapi dengan penuh kewaspadaan. Lebih dari itu, fenomena meteotsunami di selat Sunda semalam melengkapi khasanah tsunami yang pernah terjadi di Indonesia.

Yaitu, tsunami yang dipicu oleh gempabumi di dasar samudera, tsunami yang dipicu oleh letusan gunung berapi, tsunami yang dipicu oleh longsoran bawah laut, tsunami yang kemungkinan dipicu oleh liquefaksi di tepi laut seperti yang baru saja terjadi di Palu, dan meteotsunami yang terjadi di Selat Sunda.

"Begitu lengkapnya khasanah tsunami di Indonesia seolah mengingatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah serta masyarakat, tentang penting dan mendesaknya penataan ruang wilayah pantai dengan memperhatikan berbagai jenis ancaman tsunami ini. Disamping itu, evaluasi terhadap sistem peringatan dini tsunami Indonesia perlu segera dilakukan dengan memperhatikan berbagai jenis ancaman tsunami tersebut. (rls/kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Rantau lainnya
Berita Nasional lainnya