Fajar Rusvan Nukilkan Biografi Pengusaha Farmasi Yusri Umar

AI Mangindo Kayo | Jumat, 04-01-2019 | 18:44 WIB | 405 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Fajar Rusvan Nukilkan Biografi Pengusaha Farmasi Yusri Umar<p>Founder JC Institute, Fajar Rusvan.

VALORAnews - Membentur tembok saat mulai merintis bisnis, merupakan keniscayaan bagi seorang enterprenuer. Benturan itu mestinya tak jadi penghalang, dalam upaya mewujudkan ikhtiar jadi pengusaha. Filosofi air pantas diteladani, setiap kali menemui hambatan.

Demikian perjalanan hidup Yusri Umar yang dipotret penulis, Fajar Rusvan dari JC Institute dalam buku biografi berjudul "Yusri Umar, Potret Seorang Industrialis" yang akan diluncurkan Ahad (6/1/2018) di Pangeran Beach Hotel. Buku ini berisi perjalanan karir sosok pengusaha farmasi kebanggaan Ranah Minang ini.

"Yusri Umar adalah pendiri PT Beta Farma Indonesia pada 1979, sebelum berganti nama jadi PT Nusantara Beta Farma yang diresmikan 5 November 1979," ungkap Fajar Rusvan dalam siaran pers yang diterima, Jumat (4/1/2019).


Dikisahkan Fajar, pada awal 1979 itu, Yusri Umar mempunyai keinginan untuk apotek sendiri dengan bekal ilmu farmasi yang dimilikinya. Sejumlah persyaratan sudah disiapakan. Keinginannya itu dilatarbelakangi minimnya apotik di tempatnya berdomisili, Kota Padang. "Baru ada 6 buah apotek swasta waktu itu," ungkap Fajar mengisahkan.

Dikatakan Fajar, keluarga Yusri Umar sudah setuju dengan ide tersebut, tapi kehendak Tuhan tidak mampu dilawan, Yusri Umar tersangkut dalam persoalan izin. Hal ini sempat menimbulkan kekecewaan dan menciutkan harapannya.

Pertemuan dengan Syahril Kudus, salah seorang pemilik apotik swasta di Padang, menghasilkan sebuah pengharapan baru yang begitu menggoda yakni pembuatan pabrik obat untuk memenuhi pemenuhan obat di dalam nagari tanpa harus didatangkan dari daerah Jawa atau Medan.

Yusri Umar menerima saran tersebut dan langsung memantapkan hatinya dengan ide yang didapatkan. Dengan bekal ilmu yang diperoleh semasa kuliah, ia langsung mempersiapkan pabriknya. Pada awalnya Yusri Umar mengubah garasi milik mertuanya menjadi pabrik mini. Di sinilah langkah pertama sebagai produsen obat dimulai dengan memproduksi obat merah.

Pabrik PT Nusantara Beta Farma resmi berdiri dengan Keputusan Menteri Kesehatan dengan izin Direktoral Jendaral Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia di Jakarta, melalui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2661/A/SK/PAB/1981.

Izin ini untuk memproduksi obat-obatan golongan obat bebas dan golongan obat bebas terbatas yang berlokasi di Jalan Sawahan Dalam V No 1 Padang sebelum berpindah lokasi ke Jalan Raya Padang-Bukittinggi KM 25 Pasar Usang, Padangpariaman.

Usaha yang dijalankan dengan gigih ini, akhirnya berbuah manis. Ini terlihat dengan semakin pesatnya kemajuan yang diperoleh PT Nusantara Beta Farma dari tahun ke tahun. "Dalam pengelolaan perusahaannya, Yusri Umar tidak terlepas dari nuansa religius dan nilai-nilai islami," ungkap Fajar.

Pada 1998, Yusri Umar dan keluarga menunaikan ibadah haji guna memantapkan nilai keislamannya. Dia merasa sudah mampu untuk melaksanakan ibadah tersebut , baik secara materi dan fisik. Dewasa ini, Yusri Umar sudah mulai merasakan dan menerima hasil dari kerja keras dan usahanya selama ini.

"Produk PT Nusantara Beta Farma sudah dipasarkan hampir ke seluruh daerah Sumatera, tidak tertutup kemungkinan akan dipasarkan ke luar Sumatera seperti daerah Jawa. Dan juga tidak mungkin apabila nantinya produk dipasarkan ke luar negeri," ungkap Fajar tentang sekelumit isi buku yang ditulisnya.

Dosen yang Pengusaha

Yusri Umar dilahirkan pada 18 Juli 1946 di Silungkang, Kabupaten Sijunjuang, Sumatera Barat. Beliau adalah anak dari pasangan Syamsinar dan Umar Rasyid. Orang tua Yusri Umar merupakan orang asli Silungkang. Keluarga ini tergolong keluarga tepandang di kenagarian tersebut dan terkenal dengan ketaatan serta jiwa sosial yang tinggi.

Masa kecil Yusri Umar dilalui tidak jauh berbeda dengan anak-anak sebaya dengannya, seperti mengaji ke surau, bermain, menolong orang tua dan sebagainya. Yusri Umar kecil sudah mengenal dunia berdagang saat menduduki kelas 5 Sekolah Rakyat (SR) 2 Silungkang dengan menjadi pedagang keliling kampung.

Subuh hari, dia sudah mulai berangkat untuk berjualan pinukuik dengan meletakkan dagangan yang dijualnya di atas kepala sembari berkeliling kampung. Pada hari tertentu seperti hari pasar, ia akan berjualan di pasar Nagari Silungkang pada hari Minggunya.

Sejak kecil jiwa dagang, disiplin serta enterpreneur Yusri Umar sudah terlihat. Ia sudah terbiasa menyisihkan uang jajan yang diberikan oleh orang tuanya untuk ditabung. Yusri Umar juga sudah memiliki penghasilan tersendiri dari usahanya berjualan pinukuik, walaupun jumlahnya masih sedikit.

Menabung pada masa itu belum lagi di bank seperti saat sekarang, tapi melalui Kantor Pos di daerah masing-masing. Yusri Umar biasa menyetorkan uang tabungan yang dimilikinya ke kantor pos seminggu sekali. Saat menempuh pendidikan SMP, Yusri Umar sempat meninggalkan dunia dagang dan bekerja sebagai pengrajin tenun ditempat keluarganya.

Saat bersekolah di SMA Adabiah, Yusri Umar tergolong anak yang pintar karena berhasil menjadi juara umum di sekolah. Sewaktu SMA Yusri Umar tidak banyak lagi menyentuh dunia dagang karena pada masa itu ia tinggal bersama Ayahnya Umar Rasyid, orang kepercayaan dari Abdul Fatah Sutan Malano.

Abdul Fatah Sutan Malano adalah pemilik usaha sebuah Firma tekstil di Pasar Gadang, yang pada waktu itu menjadi salah satu perusahaan besar di sana. Abdul Fatah sendiri juga menjabat sebagai seorang Bendahara PPRI pada masa itu. Ayah Yusri Umar ini selain memiliki kedekatan dengan Abdul Fatah juga menjabat sebagai ketua RT ditempat ia tinggal selama 30 tahun lebih.

Dari sang ayahlah Yusri Umar banyak belajar menjadi seorang pemimpin sejati. Salah satu nasehat sang ayah yang masih dijalankan sampai sekarang yaitu "jangan menunggu orang meminta, tapi berikan apa yang bisa kita berikan."

Berbekal status juara umum di SMA Adabiah, Yusri Umar melanjutkan studi pendidikan dengan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada 1965. Kemelut PKI yang terjadi pada saat itu membuat situasi di daerah Kota Padang menjadi tidak kondusif, akhirnya Yusri Umar memilih untuk tidak melanjutkan studi pendidikannya.

Satu tahun kemudian yakni pada tahun 1966 Yusri Umar kembali melanjutkan pendidikan dengan mengambil Jurusan Farmasi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) di Universitas Andalas.

Selepas selesai menempuh pendidikannya di Universitas Andalas pada tahun 1977, tidak berselang lama Yusri Umar diterima menjadi tenaga pendidik atau menjadi dosen pengajar untuk jurusan Farmasi di Universitas Andalas. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Pendidikan lainnya
Berita Provinsi Sumatera Barat lainnya