BI7DRR Turun jadi 5,00%, Gubernur BI: Untuk Pertumbuhan dan Stabilitas

AI Mangindo Kayo | Kamis, 24-10-2019 | 16:21 WIB | 295 klik | Nasional
<p>BI7DRR Turun jadi 5,00%, Gubernur BI: Untuk Pertumbuhan dan Stabilitas<p>Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan keterangan Pers terkait hasil rapat Dewan Gubernur BI di Gedung BI, Kamis (24/10/2019). (veri rikiyanto/valoranews)

VALORAnews - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps jadi 5,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,75%.

Kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive lanjutan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

"Kebijakan ini didukung strategi operasi moneter yang terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif," ungkap Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat memberikan keterangan pers terkait hasil rapat Dewan Gubernur BI di Gedung BI, Kamis (24/10/2019).


Menurutnya, kebijakan makroprudensial tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian. Kebijakan sistem pembayaran dan kebijakan pendalaman pasar keuangan, juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Ke depan, Bank Indonesia akan mencermati perkembangan ekonomi domestik dan global dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal serta turut mendorong momentum pertumbuhan ekonomi," terangnya.

"Koordinasi Bank Indonesia dengan pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat guna mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA)," tambah Perry Warjiyo.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi dunia makin lambat, meskipun ketidakpastian pasar keuangan sedikit mereda pascakesepakatan dagang AS dan Tiongkok, Oktober 2019. Pertumbuhan ekonomi dunia yang melemah dipengaruhi oleh berlanjutnya penurunan volume perdagangan akibat ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok serta berkurangnya kegiatan produksi di banyak negara.

Sedikit meredanya ketidakpastian pasar keuangan global mendorong aliran masuk modal ke negara berkembang. "Ke depan, berbagai ketidakpastian dari ketegangan hubungan dagang AS dan Tiongkok serta risiko geopolitik lain, tetap dicermati karena dapat memengaruhi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi domestik dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal," terangnya.

Perekonomian dunia yang belum kondusif memengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik. Pertumbuhan ekspor sedikit membaik, meskipun masih mengalami kontraksi, di tengah permintaan global dan harga komoditas global yang menurun.

Sementara itu, pertumbuhan investasi bangunan cukup baik didorong oleh pembangunan proyek strategis nasional. Konsumsi rumah tangga tumbuh stabil didukung oleh inflasi yang rendah dan bantuan sosial pemerintah.

"Bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah diharapkan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4% pada 2019 dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1-5,5% pada 2020," harapnya.

Neraca Pembayaran Indonesia triwulan III 2019 diprakirakan membaik, sehingga menopang ketahanan eksternal. Prakiraan ini didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial, serta defisit transaksi berjalan yang terkendali.

Posisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat, yang pada akhir September 2019 tercatat 124,3 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Nilai tukar Rupiah juga menguat sejalan dengan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang tetap baik. Pada Oktober 2019, Rupiah mencatat apresiasi 1,18% secara point to point dibandingkan dengan level akhir September 2019. Dengan perkembangan tersebut Rupiah sejak awal tahun sampai dengan 23 Oktober 2019 tercatat menguat 2,50% (ytd).

"Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, baik pasar uang maupun pasar valas," tegasnya.

Inflasi tetap terkendali pada level yang rendah dan stabil. Inflasi yang terkendali dipengaruhi oleh inflasi inti yang tetap terjaga ditopang ekspektasi inflasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, nilai tukar yang bergerak sesuai dengan fundamentalnya, dan pengaruh harga global yang minimal.

Selain itu, inflasi volatile food yang kembali mengalami deflasi seiring penurunan harga beberapa komoditas pangan serta inflasi kelompok administered prices yang rendah, juga berkontribusi positif pada inflasi yang terkendali. "Inflasi 2019 diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasarannya 3,51% dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,01% pada 2020," tukasnya.

Transmisi pelonggaran kebijakan moneter terus berlanjut didukung kecukupan likuiditas perbankan yang memadai serta pasar uang yang stabil dan efisien. Rerata harian volume PUAB pada September 2019 tetap tinggi sebesar Rp17,95 triliun. Likuiditas perbankan juga tetap baik, tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang besar yakni 19,47% pada Agustus 2019, tidak jauh berbeda dari kondisi Juli 2019 sebesar 19,66%.

Perkembangan ini memengaruhi penurunan suku bunga PUAB pada semua tenor, termasuk suku bunga PUAB O/N sebagai sasaran operasional kebijakan moneter yang bergerak di kisaran level suku bunga kebijakan sebesar 5,24% pada September 2019. Rerata tertimbang suku bunga deposito juga menurun 13 bps dibandingkan dengan level Agustus 2019 sehingga tercatat 6,57% pada September 2019.

Suku bunga kredit juga mulai menurun, terutama pada kredit investasi dan kredit modal kerja yang masing-masing tercatat sebesar 10,11% dan 10,33%. Sementara itu, pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2019 bergerak sejalan dengan pola pertumbuhan ekonomi yakni masing-masing 6,59% (yoy) dan 7,33% (yoy).

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memastikan kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi di pasar uang, serta memperkuat transmisi bauran kebijakan yang akomodatif."

Kinerja korporasi go public yang tetap baik seiring kemampuan membayar yang tetap sehat juga menopang stabilitas sistem keuangan. Namun demikian, pertumbuhan kredit melambat dari 9,58% (yoy) pada Juli 2019 menjadi 8,59% (yoy) pada Agustus 2019, terutama dipengaruhi masih terbatasnya permintaan kredit korporasi.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Agustus 2019 sebesar 7,62% (yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan Juli 2019 sebesar 8,04% (yoy). Bank Indonesia memandang bauran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang akomodatif dapat mendorong pertumbuhan kredit tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan.

"Pertumbuhan kredit perbankan diprakirakan dalam kisaran 10-12% (yoy) pada 2019 dan 11-13% (yoy) pada 2020, sementara DPK diprakirakan dalam kisaran 7-9% (yoy) pada 2019 dan 8-10% (yoy) pada 2020," terangnya.

Kelancaran Sistem Pembayaran tetap terjaga baik tunai maupun nontunai. Pertumbuhan Uang Tunai Yang Diedarkan (UYD) September 2019 tercatat 4,57% (yoy), sementara transaksi pembayaran nontunai menggunakan ATM-Debit, Kartu Kredit, dan Uang Elektronik (UE) posisi Agustus 2019 tumbuh 5,71% yang didominasi oleh instrumen ATM-Debit dengan pangsa 93,78%.

Pertumbuhan transaksi UE Agustus 2019 tetap tinggi mencapai 230,25% (yoy) sejalan dengan preferensi masyarakat terhadap penggunaan uang digital yang terus menguat serta didukung integrasi UE dalam ekosistem digital yang meluas.

Ke depan, Bank Indonesia terus meningkatkan kelancaran Sistem Pembayaran dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan digital. Bank Indonesia juga mendorong percepatan dan perluasan program elektronifikasi khususnya untuk transaksi Pemerintah Daerah dan mendorong transformasi digital di sektor keuangan dengan berbagai inisiatif. (rls/vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Bisnis lainnya
Berita Nasional lainnya