73 Hektar Sawah di Padang jadi 'Tempat Pembuangan Akhir' Sampah Plastik

AI Mangindo Kayo | Sabtu, 23-11-2019 | 15:53 WIB | 336 klik | Kota Padang
<p>73 Hektar Sawah di Padang jadi 'Tempat Pembuangan Akhir' Sampah Plastik<p>Tim Reaksi Cepat DLH Padang, mengangkat sampah plastik dari saluran drainase Komplek Permata Surau Gadang, pekan lalu. Sampah ini merupakan sampah kiriman dari saluran irigasi yang mengairi areal persawahan Gapokta Sarumpun Boneh di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Padang. (mangindo kayo/valoranews)

VALORAnews - Sampah plastik tak hanya jadi masalah besar di bibir pantai yang terletak di sepanjang pesisir pantai, setiap kali hujan lebat mengguyur Kota Padang. Petani pun mengeluhkan sampah yang tak bisa diurai itu, karena memenuhi hamparan sawah mereka. Warga yang bermukim di dekat areal persawahan, juga ikut kena getahnya.

Kiriman sampah plastik yang kerap bercampur bangkai binatang, pempers, styrofoam dan aneka jenis sampah plastik lainnya itu, saat sampai di pemukiman, memicu terjadinya penyumbatan di saluran drainase. Jika sudah tersumbat, tentu saja akan memicu luapan air yang memenuhi jalan hingga rumah.

"Kini sudah memasuki musim penghujan. Setiap kali hujan, sampah kiriman terus menggunung di pintu aia (pintu irigasi-red). Jika hujan lebat turun lagi dan pintu air akan dibuka, akan membuat sampah-sampah itu ikut hanyut memenuhi sawah hingga saluran di pemukiman," ungkap Mak Uniang, petani asal Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Padang, Sabtu (23/11/2019).


Mak Uniang, merupakan salah seorang petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sarumpun Boneh yang berada di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang. Gapoktan ini terdiri dari Kelompok Tani (Keltan) Bujang Juaro, Gunung Putuih dan Surga Jaya.

Gapoktan Sarumpun Boneh ini memiliki hamparan sawah seluas 73 hektar lebih dengan anggota 104 orang. Areal persawahan ini membentang mulai dari Kalumbuk (kecamatan Kuranji), Gurun Laweh dan Surau Gadang (kecamatan Nanggalo) hingga Bawah Asam Sungai Sapiah (kecamatan Kuranji).

"Plastik saja isi tali banda. Kadang, ada juga ditemukan bangkai binatang," ungkap Burman, pensiunan TNI putra setempat, yang kini jadi petani di Surau Gadang. Tumpukan sampah ini ditemukannya saat membersihkan tali banda menuju tiga petak sawahnya yang bersebelahan dengan Komplek Permata Surau Gadang.

Ketua RT 07 RW 01 Kelurahan Surau Gadang, Husni Jamal juga mengeluhkan sampah kiriman ini. Menurutnya, setiap kali hujan lebat mengguyur Padang, warganya langsung dihantui sampah kiriman.

"Sampah kiriman ini sangat banyak. Kami bahkan terpaksa meminta bantuan satu unit truk dari Dinas Lingkungan Hidup untuk membawa sampah kiriman yang telah dikumpulkan warga," ungkapnya.

Husni Jamal menilai, kawasan pemukiman di RT 07 ini, akan selalu jadi tempat penumpukan sampah kiriman. Karena, hamparan sawah setelah perumahan itu, di kawasan Gunung Juaro, secara berangsur telah berganti perumahan penduduk.

"Dulu, hamparan sawah sampai ke kampus Politeknik Kesehatan (Poltekes) Padang di Jl Raya Siteba. Kini, hamparan sawah itu telah berganti pemukiman yang tumbuh sangat cepat," terang Husni.

"Air untuk mengairi areal persawahan di Gapoktan Sarumpun Boneh ini berakhir di komplek kami ini. Tak ada lagi saluran pembuangan ke Batang Kuranji (dekat intake PDAM Kampung Koto-red), karena telah dihalangi rumah warga. Ini membuat kami akan selalu jadi tempat sampah dan luapan air sawah," tambah Husni.

Anggota DPRD Padang, Faisal Nasir yang juga putra asli daerah Surau Gadang mengakui, Komplek Permata Surau Gadang merupakan akhir dari saluran irigasi di areal persawahan Gapoktan Sarumpun Boneh.

"Selain memecahkan saluran pembuangan ke Batang Kuranji untuk mengatasi buntunya saluran irigasi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Setdako Padang, semestinya mulai menegakan Perda No 21 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah pada warga di hulu Batang Kuranji," terangnya.

Menurut Faisal Nasir, DLH Setdako Padang sepertinya masih fokus untuk mengatasi persoalan sampah di kawasan perkotaan. Kawasan di pinggiran kota seperti tak diurus. "Sosialisasikan jugalah Perda Pengelolaan Sampah ini ke warga Nanggalo, Kuranji, Pauh, Koto Tangah dan Lubeg serta Bungus Teluk Kabung yang juga wilayah Padang," terangnya.

"Minimal, pasang lah papan pengumuman larangan dan sanksi hukum pagi pelaku buang sampah ke badan sungai pada warga di sepanjang aliran Batang Kuranji beserta saluran irigasi yang melewati berbagai perkampungan. Kebiasaan membuang sampah warga, harus diubah baik secara sadar maupun bersifat memaksa," tambah politisi PAN ini.

Selain keberadaan Perda Pengelolaan Sampah, Pemko Padang juga punya beleid khusus tentang pengendalian penggunaan kantong belanja plastik yakni Peraturan Wali Kota (Perwako) No 36 tahun 2018.

Beleid ini dibuat, karena menyadari bahwa masyarakat Padang memproduksi 400 hingga 600 ton sampah setiap harinya yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dari angka tersebut, sekitar 15 persennya merupakan sampah plastik.

Diketahui, DLH Padang juga telah melakukan sejumlah inovasi dalam mengatasi sampah plastik ini. Seperti raun asyik bayar dengan sampah plastik dan sedekah sampah. Selain itu, Pemko Padang juga mendirikan bank sampah di setiap kelurahan.

Sayang, inovasi itu masih belum menyelesaikan persoalan persampahan. Setidaknya bagi petani yang tergabung dalam Gapoktan Sarumpun Boneh dan warga Komplek Permata Surau Gadang yang perumahannya dibangun pada 2009 lalu itu. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Metro lainnya
Berita Kota Padang lainnya