Lomba Kejar Layangan Putus Dijadikan Ikon Program Daur Ulang Sampah

AI Mangindo Kayo | Selasa, 17-12-2019 | 14:44 WIB | 331 klik | Kab. Padang Pariaman
<p>Lomba Kejar Layangan Putus Dijadikan Ikon Program Daur Ulang Sampah<p>Ketua Karang Taruna Togabar, Habibi bersama seniman asli Piaman, Ajo Wayoik, Kamal Guci dan lainnya, membahas persiapan iven yang akan digelar di nagari itu, kemarin. (istimewa)

VALORAnews - Pemuda Nagari Toboh Gadang Barat (Togabar), kecamatan Sintuk Toboh Gadang (Sintoga), kabupaten Padangpariaman yang tergabung dalam Karang Taruna (KT) nagari, punya cara kreatif dalam mengatasi hura-hura pergantian tahun baru masehi. Mereka betencana menggelar Festival Layangan Pau-Pau, pentas seni dan ditutup dengan tablighakbar.

Ketua Karang Taruna Togabar, Habibi mengatakan, acara ini sekaligus membawa misi khusus melawan sampah. "Acara utama, Lomba Layang-Layang Pau-Pau adalah sarana untuk mengedukasi masyarakat mengatasi masalah sampah dengan proses recycling," ungkapnya, kemarin.

Layang-layang Pau-pau sendiri, terang dia, adalah jenis layangan yang dibuat dengan menggunakan limbah plastik sebagai bahan utamanya.


Kenapa mengatasi sampah?

Menurut Habibi, sampah memang belum jadi masalah besar di nagarinya. Tapi, justru karena itu dari kini masyarakat sudah harus mulai disadarkan dengan menbudayakan daur ulang sampah, pada tingkat paling sederhana.

"Nagari Toboh Gadang juga ingin kami jadikan sebagai nagari layak anak. Setelah berdiskusi dengan sejumlah tokoh kepemudaan dan seniman seperti Ajo Wayoik! dan Pak Kamal Guci, rupanya ini punya kaitan erat," terangnya.

"Anak-anak perlu diajarkan kembali permainan lama, agar tak terlena dengan gadget yang sudah menjadi kegemaran hingga ke pelosok kampung," tambah dia.

Dikatakan, ramah anak juga berarti nagari harus punya program untuk membentuk karakter mereka. Karakter yang baik diajarkan oleh berbagai permainan lama, termasuk Layang-layang Pau-pau.

"Layang-layang khususnya layang atau alang-alang pau-pau, punya hubungan dengan sejarah dakwah Syech Burhanuddin. Intinya, permainan ini dilestarikan untuk menyambung dakwah terkait sikap arif dan bijaksana yang perlu dimiliki setiap muslim," tukas Kamal Guci, pelukis legendaris asli Piaman yang juga hadir dikesempatan itu.

Layang-layang Pau-pau ini, terang dia, dibuat dengan mempertimbangkan keseimbangan pada tiap tahap pembuatannya. "Nilai ini dapat ditanamkan apabila permainan ini dilestarikan," urai Kamal Guci.

Sementara, Ajo Wayoik mengatakan, dirinya antusias dengan ide awal pemuda Togabar untuk melestarikan Layang Pau, pau yang pada dasarnya sangat sederhana sehingga dapat dibuat oleh anak-anak.

"Ketika berdiskusi, saya sarankan agar mereka juga mengedepankan kampanye melawan sampah. Sebab jamak permainan lama, berasal dari bahan-bahan yang sudah terbuang," terangnya.

Diharapkan, Nagari Togabar jadi percontohan bagi upaya daur ulang sampah dengan terapan yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan masyarakat. "Dengan membuat mainan daur ulang sendiri, anak-anak dan remaja Togabar, diharapkan dapat mulai memikir berbagai langkah lain dalam menjadikan sampah jadi barang berguna," ulasnya.

Hal yang menarik lagi, dalam rangkaian lomba, Ajo Wayoik menambahkan cabang mengejar layangan putus. "Ini ide aneh, tapi nenarik. Ketika informasi tentang lomba mengejar layangan putus yang bisa diikuti para penonton ini dihadapan peserta Mubes Sumbar Kreatif beberapa waktu lalu, teman-teman banyak yang tertarik untuk ikut," sebut Ketua Sumbar Kreatif, Yulvialdi Adek yang juga hadir di pertemuan itu.

Ia berharap, proses acara dapat berjalan lancar sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat diraih. (rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Ranah lainnya
Berita Kab. Padang Pariaman lainnya