Desa Mesti Lirik Potensi Ekonomis Kaliandra jadi Sumber Energi Baru Terbarukan

AI Mangindo Kayo | Sabtu, 01-02-2020 | 20:40 WIB | 496 klik | Nasional
<p>Desa Mesti Lirik Potensi Ekonomis Kaliandra jadi Sumber Energi Baru Terbarukan<p>Lulusan University of Applied Science Constance, Jerman pada 2008, Jaya Damanik di antara tanaman Kaliandra yang tumbuh liar di kawasan hutan Simalungun, Sumut. (istimewa)

VALORAnews - Sumber energi yang ramah lingkungan, selama ini lekat disematkan pada energi panas bumi. Padahal, Indonesia yang memiliki jutaan hektar hutan tropis, memiliki sumber daya alam hayati yang bisa dijadikan sumber energi baru terbarukan (EBT) yaitu Tanaman Kaliandra.

"Tanaman Kaliandra atau cabello de angel (rambut malaikat-red), banyak tumbuh liar di hutan kita. Tanaman ini aslinya berasal dari Guatemala. Potensi tanaman ini sebagai sumber EBT, nyaris belum dilirik. Padahal, di negara-negara Eropa, tanaman ini sudah dijadikan sumber energi pembangkit listrik," ungkap Jaya Damanik, Sabtu (1/2/2020).

Dikatakan Jaya, menanam Kaliandra dengan sistem tumpang sari di kawasan hutan lindung, hutan produksi maupun hutan adat, selain meminimalisir kemungkinan kebakaran hutan, juga bisa jadi sumber pendapatan bagi jutaan desa di Indonesia.


"Kayu Kaliandra ini merupakan bahan baku utama wood pellet atau charcoal yang jadi sumber pembangkit listrik alternatif, daunnya digunakan untuk penggemukan ternak, bunganya bisa dijadikan sumber makanan lebah madu. Ini lah potensi besar tanaman Kaliandra yang mesti digarap serius," terang Jaya yang merupakan alumnus Jurusan Fisika Instrumentasi FMIPA USU itu.

Dikatakan Jaya, Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi pernah mengungkapkan, Di Provinsi Sumut saja, terdapat da 66 Ribu hektar hutan sosial yang bisa dikelola masyarakat desa. Ada 191 desa di areal sekitar hutan sosial itu.

"Jika satu kawasan hutan sosial itu menghasilkan perputaran uang sebesar Rp1 miliar dari tanaman Kaliandra ini, maka akan ada Rp191 miliar uang yang berputar di desa, berkat pemanfaatan hutan sosial tersebut. Ini sangat signifikan untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan," tegas master lulusan University of Applied Science Constance, Jerman pada 2008 silam itu.

"Pemanfaatan hutan sosial tersebut mesti dilakukan oleh BUMDes. Tentu saja ini akan dapat menarik investor lokal maupun luar negri. Betapa hebatnya jika setiap provinsi di Indonesia yang kaya hutan, dapat ditumpang sarikan Tanaman Kalianda ini. Selain kita tidak merusak hutan, malahan hutan terhindar dari kebakaran, illegal loging dan lainnya," tambah Jaya.

Jaya Damanik yang kelahiran Pagarbatu, Simalangun, Sumut ini memandang, sudah saatnya tanaman Kaliandra ini dimanfaatkan secara lebih luas. Saat ini, terang dia, dibutuhkan payung hukum minimal berupa Peraturan Daaerah (Perda), agar investasi tanaman Kaliandra di kawasan hutan sosial, tidak menyalahi aturan yang lebih tinggi.

"Kenyamanan investasi itu penting bagi investor. Yang jelas, Kaliandra ini jika dibudidayakan, tidak akan merusak kawasan hutan. Yang ada itu malah membawa banyak keuntungan. Mulai dari peningkatan pendapatan asli daerah, pajak, pengurangan angka pengangguran dan banyak lainnya," tegasnya.

Terpisah, peternak kambing Simalungun, John Erwin mengungkapkan, selama ini Kaliandra hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak yang diusahakan di tanah kelahirannya. Dia tak mengetahui, besarnya potensi tanaman Kaliandra ini sebagai bahan baku EBT.

"Petani untung, ternak jadi gemuk, pendapatan desa meningkat dan yang terpenting itu hutan tetap lestari," nilai John yang juga alumni Fakultas Peternakan Unand itu.

Jenis Kaliandra yang bisa dijadikan sumber EBT yakni Kaliandra Merah. Tanaman semak ini mudah tumbuh saat musim penghujan atau kering. Akar rhizobium dan jamur microriza di akar Kaliandra, mampu mengurangi pertumbuhan gulma lahan. Selain daun pelyuannya yang baik dimanfaatkan untuk pakan ternak, bunga kaliandra juga bisa jadi penghasil nektar untuk lebah madu yang baik.

Tinggi Kaliandra dapat mencapai 12 m dengan diameter 20 cm. Batang basah Kaliandra mampu menghasilkan energi panas 4600 kkl/Kg. Sedang saat sudah kering menghasilkan kkl/Kg panas. Panas ini setara dengan panas rerata batubara. Sehingga prospek olahan pelet kayu kaliandra dapat dijadikan EBT biomassa ramah lingkungan.

Pelet kayu dianggap lebih ramah lingkungan daripada batubara. Wood pellet atau pelet kayu dari Kaliandra dianggap carbon neutral. Daripada bahan bakar gas (BBG), emisi CO2 yang dihasilkan pelet kayu 8 kali lebih rendah. Sedang dibandingkan bahan bakar minyak (BBM), emisi CO2 pelet kayu 10 kali lebih rendah. Sehingga tak heran, tren pelet kayu sebagai EBT biomassa menjadi alternatif energi. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Rantau lainnya
Berita Nasional lainnya