Inflasi Sumbar Dipicu Faktor Kenaikan Harga Emas Akibat Isu Pandemi Korona

AI Mangindo Kayo | Kamis, 02-04-2020 | 19:26 WIB | 161 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Inflasi Sumbar Dipicu Faktor Kenaikan Harga Emas Akibat Isu Pandemi Korona<p>Info grafis.

VALORAnews - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, Wahyu Purnama A mengungkapkan, Sumatera Barat tercatat mengalami deflasi pada Maret 2020. Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) umum Sumatera Barat pada Maret 2020 tercatat mengalami deflasi tipis sebesar -0,01% (mtm), atau meningkat dibandingkan realisasi Februari 2020 yang deflasi sebesar -0,20% (mtm).

"Laju inflasi Sumatera Barat pada Maret 2020 tercatat berada di bawah realisasi inflasi nasional yang sebesar 0,10% (mtm) namun lebih tinggi dibandingkan realisasi Kawasan Sumatera yang mengalami deflasi sebesar -0,15% (mtm)," ungkap Wahyu dalam pernyataan tertulis, Kamis (2/4/2020).

Secara spasial, terangnya, pada Maret 2020 Kota Padang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,02% (mtm) meningkat dari realisasi bulan Februari 2020 sebesar -0,29% (mtm), menjadikannya sebagai kota dengan nilai deflasi tertinggi ke-13 dari 14 kota/kabupaten IHK di kawasan Sumatera yang mengalami deflasi serta berada pada peringkat ke-44 deflasi tertinggi dari 47 kota/kabupaten IHK di Indonesia yang mengalami deflasi.


Pada Maret 2020, Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 0,07% (mtm) lebih rendah dari realisasi inflasi pada bulan Februari 2020 yang tercatat inflasi sebesar 0,46% (mtm). Realisasi inflasi Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai kota dengan nilai inflasi tertinggi ke-7 dari 10 kota/ kabupaten di Kawasan Sumatera yang mengalami inflasi. Selanjutnya secara nasional, Kota Bukittinggi berada pada peringkat ke-28 dari 44 kota/ kabupaten IHK yang mengalami inflasi.

Secara tahunan pergerakan harga pada Maret 2020 menunjukkan inflasi sebesar 2,09% (yoy) atau menurun dibandingkan realisasi inflasi Februari 2020 yang sebesar 2,28% (yoy). Nilai inflasi tahunan Sumatera Barat ini tercatat lebih rendah dari realisasi inflasi nasional sebesar 2,98% (yoy) dan realisasi Kawasan Sumatera sebesar 2,25% (yoy). Inflasi tahun berjalan 2020 (s.d Maret 2020) Sumatera Barat tercatat sebesar 0,39% (ytd) atau menurun dibandingkan Februari 2020 yang sebesar 0,40% (ytd).

Deflasi Provinsi Sumatera Barat pada Maret 2020 terutama berasal dari deflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar -0,16% (mtm) didorong oleh penurunan harga berbagai komoditas bahan makanan dikarenakan mulai masuknya masa panen sehingga pasokan melimpah.

Komoditas penyumbang deflasi pada kelompok ini antara lain cabai merah, bawang putih dan ayam hidup dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,19% (mtm), -0,03% (mtm) dan -0,02% (mtm). Sementara itu, beberapa komoditas penyumbang inflasi di kelompok makanan, minuman dan tembakau antara lain gula pasir, ikan cakalang/ ikan sisik dan cabai hijau yang menyumbang inflasi dengan andil masing-masing sebesar 0,03% (mtm), 0,02% (mtm) dan 0,06% (mtm).

Kenaikan harga gula pasir disebabkan oleh terbatasnya pasokan dari Lampung dan masih terkendalanya pasokan impor. Ikan cakalang/ ikan sisik dan cabai hijau mengalami kenaikan harga seiring dengan kenaika permintaan.

Di sisi lain, tekanan inflasi pada Maret 2020 juga berasal dari inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang tercatat mengalami inflasi sebesar 1,89% (mtm) meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,56% (mtm).

Inflasi pada kelompok ini terutama disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan dengan andil inflasi sebesar 0,08% (mtm) yang didorong oleh ketidakpastian global yang meningkat akibat mewabahnya virus Covid-19.

Kelompok lain yang turut menyumbang inflasi yaitu kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 0,12% (mtm) meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -1,91% (mtm).

Inflasi pada kelompok transportasi disumbang oleh inflasi angkutan udara dengan andil sebesar 0,02% (mtm) yang disebabkan oleh sudah mulainya arus mudik karena adanya wabah virus Covid-19 dan kenaikan harga menjelang bulan Ramadhan 1441 H.

Dalam rangka pengendalian inflasi di daerah, sekaligus merespon perkembangan wabah virus Covid-19 yang berdampak terhadap perekonomian global maupun nasional, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat telah melaksanakan berbagai upaya pengendalian inflasi di wilayah Provinsi Sumatera Barat.

Upaya pengendalian inflasi yang telah dilakukan oleh TPID Provinsi Sumatera Barat antara lain, penyaluran bahan pangan murah oleh TTIC Sumatera Barat yang dilakukan melalui media pemasaran online. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga kestabilan harga pangan di tengah risiko kenaikan harga akibat penyebaran wabah virus Covid-19.

Kemudian, pemantauan ketersediaan pasokan bahan pangan oleh Gubernur Sumatera Barat bersama dengan Asisten Perekonomian, Kepala Dinas Pangan dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Biro AP2BMD dan didampingi Kepala Bulog terutama bagi kebutuhan pokok seperti beras , tepung dan minyak goreng.

Pemenuhan kebutuhan telur dan daging ayam ras menjelang bulan Ramadhan dilakukan dengan pemberian himbauan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat kepada peternak/ produsen untuk meningkatkan kapasitas kandang sebesar 30%.

BULOG terus melakukan upaya pengendalian harga beras melalui operasi pasar yang rutin dilakukan kepada pedagang serta pengadaan impor gula pasir yang saat ini pasokannya kosong.

Peningkatan koordinasi seluruh anggota TPID untuk menjaga kecukupan pasokan bahan makanan dan kebutuhan masyarakat lainnya di wilayah Sumatera Barat menjelang bulan Ramadhan. Koordinasi juga dilakukan untuk memastikan keterjangkauan harga dan kelancaran distribusi bahan makanan tetap terjaga di tengah merebaknya virus Covid-19 yang membatasi kegiatan perekonomian masyarakat.

Kedepan, diharapkan sinergi dan koordinasi TPID Provinsi, TPID Kabupaten/Kota di Sumatera Barat dengan Pemerintah Pusat dapat terus ditingkatkan dalam rangka pengendalian inflasi daerah. (vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Ranah lainnya
Berita Provinsi Sumatera Barat lainnya