UN Tak Lagi Tentukan Kelulusan

Ramadhansyah: Mental Petarung Siswa jadi Luntur

AI Mangindo Kayo | Rabu, 15-04-2015 | 16:47 WIB | 1785 klik | Kota Padang
<p>Ramadhansyah: Mental Petarung Siswa jadi Luntur<p>Dua orang pesilat dari perguruan silat "Ampu Silang" memeragakan seni beladiri khas Minangkabau itu di Pantai Muaro Lasak, Purus, Minggu (12/4/2015). (humas pemko Padang)

VALORAnews -- Wajah-wajah cerah, terpancar dari siswa peserta ujian nasional (UN) 2015 di SMAN 6 Padang. Seiring bunyi bel, tanda usainya UN hari terakhir pada Rabu (15/4/2015), puluhan siswa di sekolah yang berada di kawasan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan itu, mengucap kalimat syukur.

Ketika diwawancarai, salah seorang peserta UN 2015 di sekolah itu, Adrizal mengatakan, perjuangan selama tiga tahun telah selesai. "Perasaan terasa lega," terang Adrizal, Rabu siang. (Baca juga: Inilah Syarat Kelulusan UN 2015)

Lain lagi dengan Feni. Menurutnya, satu langkah berat telah dilalui, tinggal mempersiapkan diri untuk jenjang berikutnya. Feni tak menampik, perubahan sistem bahwa UN bukan lagi syarat mutlak kelulusan siswa, membuat tekanan terhadap dirinya menghadapi ujian akhir ini jadi jauh berkurang.


"Saya lebih enjoy menghadapi UN kali ini," terang Feni.

Apakah sistem UN 2015 ini sudah tepat? Kepala SMAN 6 Padang, Ramadhansyah menilai, sistem UN 2015 ini ada sisi positif dan negatifnya. Sisi positifnya, siswa lebih tenang dan enjoy menghadapi UN, Tingkat stress siswa, tidak lagi seperti tahun sebelumnya.

"Mekanisme seperti ini, saya mengkhawatirkan akan lunturnya jiwa petarung dari siswa," ungkap Ramadhansyah.

Jiwa petarung disini, terang Ramadhansyah, adalah mental siswa tidak lagi terbiasa menghadapi tekanan karena mereka tidak lagi merisaukan hasil UN.

Sebenarnya, menurut dia, ada dua sistem pendidikan di dunia. Pertama, sistem yang dianut Korea Selatan yaitu mengedepankan ujian. Hasil ujian menentukan segalanya. Yang kedua, sistem yang dianut Finlandia yaitu mengedepankan proses daripada ujian.

"Kelemahan dari sistem Finlandia ini, siswa tidak bisa menghadapi tekanan tinggi sehingga tidak bisa mengambil keputusan yang tepat secara cepat," terangnya. (Baca juga: Komisi X DPR RI Pertanyakan Padang Tak Gelar UN Online)

Adahal yang masih rancu dimata Ramadansyah, yaitu sistem penerimaan di universitas yaitu adanya sistem penerimaan melalui ujian, padahal syarat penerimaan mahasiswa berdasarkan hasil UN. "Kenapa harus ada lagi ujiannya jika hasil UN juga dijadikan patokan," tanyanya.

Ramadhansyah berpendapat, sebaiknya universitas menetapkan standar nilai UN bagi siswa untuk dapat masuk, sehingga UN menjadi ajang berlomba bagi siswa untuk mengejar universitas favoritnya. Jadi, dengan prestasi mereka selama tiga tahun kelulusan, sudah terjamin.

"Nah, di UN lah para siswa akan bertarung untuk memerebutkan universitas impian mereka," tandasnya.

Tahun ajaran 2014/2015 ini, UN di SMAN 6 Padang diikuti 269 orang siswa ditambah sembilan orang siswa dari SMA Kalam Kudus. (vri)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Pendidikan lainnya
Berita Kota Padang lainnya