Sosialisasi Pilgub Sumbar, Husni: Saatnya Pemilih Bikin Kontrak Politik dengan Calon

AI Mangindo Kayo | Sabtu, 14-11-2015 | 20:39 WIB | 1803 klik | Kota Padang
<p>Sosialisasi Pilgub Sumbar, Husni: Saatnya Pemilih Bikin Kontrak Politik dengan Calon<p>Ketua KPU RI, Husni Kamil Manik saat memberikan paparan, jelang diskusi bersama tokoh masyarakat se-kecamatan Nanggalo, Padang, Sumbar, Sabtu (14/11/2015). Kegiatan ini, merupakan sosialisasi pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumbar 2015, yang digelar PPK Nanggalo, Kota Padang. (mangindo kayo/valoranews)

VALORAnews -- Alasan pemilih datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada setiap pemilihan umum (pemilu), karena faktor tahu dan mau. Kedua faktor ini, dipengaruhi oleh variabel berbeda. Yang pertama disebabkan faktor penyelenggara dan yang kedua tersebab pasangan calon berserta partai pengusungnya.

Demikian dikatakan Ketua KPU RI, Husni Kamil Manik, saat sosialisasi pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumbar bersama tokoh masyarakat kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sabtu (14/11/2015), di lapau (warung-red) di tepi aliran Batang Kuranji, tepatnya di water intake PDAM Padang. Husni beserta keluarga, merupakan pemilih di TPS 6 Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Padang, Sumbar.

"Jika pemilih bermodal tahu datang ke TPS, maka itu lebih disebabkan faktor penyelenggara (KPU dan jajaran-red). Biasanya, pamilih kategori tahu ini, saat berada di bilik suara, akan membutuhkan waktu lama karena masih menimbang-nimbang siapa calon yang akan dipilih," urai Husni dalam sosialisasi yang dihadiri tokoh-tokoh se-Kecamatan Nanggalo itu.


"Sementara, pemilih karena faktor mau, dipengaruhi faktor pasangan calon berserta partai pendukungnya. Inilah yang seharusnya terjadi, dimana pemilih datang ke PTS karena mau, akibat telah memahami kapasitas calon yang akan dipilihnya. Dalam bilik suara, pemilih juga tidak membutuhkan waktu banyak," tambah Husni dalam sosialisasi yang lebih banyak menggunakan bahasa Minang itu.

Untuk memberikan kesempatan pada pasangan calon bertemu secara luas dengan masyarakat pemilih, terang Husni, maka metode kampanye pada pemilihan serentak 2015, sedikit berbeda dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Yakni mencakup empat hal yakni alat peraga, bahan kampanye, debat dan juga iklan. Kesemuanya ini, pembiayaannya ditanggung KPU.

Sementara, dari sisi calon, kampanye telah dimulai sejak 27 Agustus 2015 sampai sehari sebelum masa tenang, 5 Desember 2015. Kegiatan yang bisa dilakukan tim kampanye di rentang waktu 100 hari itu adalah pertemuan tatap muka, blusukan, menyapa masyarakat atau pertemuan terbatas di gedung dengan jumlah tertentu atau kegiatan keolahragaan, kebudayaan dan rapat umum.

"Kita menciptakan regulasi, agar calon bertemu sebanyak mungkin dan berinteraksi dengan masyarakat secara langsung. KPU memberi ruang, agar terjadi kesempatan, terciptanya kontrak politik antara masyarakat pemilih dengan orang yang akan dipilih. Agar, pemilih yang datang ke TPS ini karena faktor mau itu tadi," terang Husni.

Sosialisasi di lapau (warung) ini dipilih, lebih disebabkan faktor budaya orang Minang itu sendiri. Dimana, lapau bagi masyarakat Minang, telah jadi tempat membahas banyak hal. Mulai dari persoalan berkampung hingga bernegara. Tradisi maota (berdiskusi)di lapau ini, telah begitu membudaya sehingga banyak persoalan-persoalan bisa terselesaikan secara informal melalui percakapan di lapau ini.

Dengan sosialiasi tentang pemilihan serentak 2015 di lapau ini, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Nanggalo sebagai penyelenggara berharap, ikut menghidupkan kembali budaya Minang itu. Diharapkan, tokoh-tokoh yang diundang menghadiri sosialisasi bersama ketua KPU RI itu, juga jadi bahan ota (topik percakapan-red) di lapau-lapau lainnya.

Dengan begitu, pemilihan serentak ini bisa lebih massif diketahui masyarakat. Harapannya, tentu saja akan membuat makin meningkatnya angka partisipasi pemilih di Kota Padang yang hanya menggelar pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumbar 2015.

Sosialisasi dengan metode maota di lapau-lapau ini, sebelumnya telah lebih dulu dilakukan jajaran KPU Sijunjung, Sumatera Barat. (Baca: KPU Sijunjung Jadikan Kedai sebagai Universitas Demokrasi)

Kordiv Sosialisasi KPU Sijunjung, Lindo Karsyah yang berkesempatan hadir di acara PPK Nanggalo, usai kuliah S-2 Jurusan Komunikasi di Universitas Andalas mengatakan, ota lapau ini merupakan pertemuan informal dan bukti egaliternya orang Minang.

"Maota di lapau ini, merupakan prototipe sosialisasi yang merakyat, mengakar dan populis. Karena, kita mendatangi basis massa. Kita tidak lagi sepenuhnya menerapkan pola mengundang kalangan elit elemen masyarakat ke kantor KPU, gedung atau hotel. Melainkan kita duduk dimana biasanya masyarakat duduk. Kita bicara dan diskusi dimana biasanya mereka diskusi," ungkap Lindo. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Metro lainnya
Berita Kota Padang lainnya