50 Tahun Aksi KAMI-KAPPI, Makmur Hendrik: Nilai Tritura Apakah Masih Diterapkan Sekarang

AI Mangindo Kayo | Minggu, 10-01-2016 | 17:35 WIB | 1105 klik | Kota Bukittinggi
<p>50 Tahun Aksi KAMI-KAPPI, Makmur Hendrik: Nilai Tritura Apakah Masih Diterapkan Sekarang<p>Eksponen Angkatan 66, melakukan tabur bunga di TMP Kusuma Bakti, Gulai Bancah, Bukittinggi, Minggu (10/1/2016). Sebelumnya, aktivis yang pernah melancarkan tiga tuntutan ke pemerintah yang dikenal dengan Tritura itu, memperingati setengah abad aksi mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dan KAPPI serta beberapa Kesatuan Aksi lainnya. (hatta rizal/valoranews)

VALORAnews - Seratusan lebih orang berkumpul di Monumen Pahlawan Ampera Ahmad Karim, di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bhakti, Gulai Bancah, Bukittinggi, Minggu (10/1/2016), untuk memperingati setengah abad aksi mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) serta beberapa Kesatuan Aksi lainnya.

"Kita renungkan kembali apa yang telah dilakukan Angkatan 66 pada 50 tahun silam. Kemudian, bagaimana nilai-nilai Tritura itu bisa diterapkan hingga sekarang," kata salah seorang pelaku sejarah, Makmur Hendrik, mengenang tiga desakan perubahan pada Pemerintah yang kemudian dikenal dengan Tritura yang terjadi pada 10 Januari 1966 silam.

Dikatakan penulis novel terkenal, Tikam Samurai ini, saat itu Indonesia tengah berada dalam titik nadir di sektor perekonomian, hingga mengakibatkan terjadinya inflasi lebih dari 650 persen.


"Akibat inflasi ini, rakyat tak bisa beli beras hingga mengakibatkan Angkatan 66 bersama mahasiswa, nekad mengeluarkan tiga tuntutan pada pemerintah. Salah satunya untuk menurunkan harga," lanjutnya.

Akibat dari aksi demonstrasi ini, banyak orang yang harus meregang nyawa. Antara lain Ahmad Karim dan Arif Rahman Hakim. Ahmad Karim, tewas tertembak di Bukittiinggi, akibat terlalu kritis menyuarakan Tritura. Dia kini sudah ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Ampera.

Sedangkan, Arif Rahman Hakim, tewas tertembak di Jakarta dalam insiden dengan pasukan pengawal Presiden, Cakrabirawa.

Salah seorang yang mengaku jadi saksi tertembaknya Arif Rahman Hakim, Syahrir Darja menyatakan, melihat langsung tertembaknya putra asli Sumatera Barat itu.

"Saya di sebelahnya saat kejadian itu. Arif tertembak hingga tiga kali sekitar pukul 16.00 WIB. Mayatnya membiru akibat tembakan itu," kenangnya.

Dalam renungan ini, tak hanya kalangan pejabat maupun Angkatan 66 Sumbar saja yang ikut menghadiri. Kalangan mahasiswa dan pelajar, juga terlihat menghadiri acara yang diakhiri dengan ziarah di TMP Bukittinggi itu. (cr6)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Metro lainnya
Berita Kota Bukittinggi lainnya