Pemkab Limapuluh Kota Gelar Dialog Kebangsaan Bersama Keluarga Bung Hatta

AI Mangindo Kayo | Jumat, 11-08-2017 | 10:27 WIB | 150 klik | Kab. Lima Puluh Kota
<p>Pemkab Limapuluh Kota Gelar Dialog Kebangsaan Bersama Keluarga Bung Hatta<p>Putri Proklamator RI, Bung Hatta, Gemala Hatta, memberikan buku kepada Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan usai peringatan Khaul Muhammad Hatta 115 tahun dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 sekaligus Dialog Kebangsaan, Kamis (10/8/2017). (humas)

VALORAnews - Dalam rangka peringatan Khaul Muhammad Hatta 115 tahun dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 di Kabupaten Limapuluh Kota, pemerintah setempat menggelar Dialog kebangsaan bersama Putri Bung Hatta, Kamis (10/8/2017).

Kesempatan itu, ikut hadir Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, Kepala OPD se-kabupaten Limapuluh, pelajar, mahasiswa, tokoh masyarakat, Keluarga Aziz Haili beserta keluarga Mohamad Hatta dan rombongan di antaranya putri Menteri Kesehatan RI 1950, Nuryani, Putri Desalwi, putra angkatnya bung Hatta beserta lainnya.

Dalam sambutannya, Ferizal Ridwan mengucapkan terimakasih, atas kedatangan rombongan untuk bersilaturahmi sekaligus menggelar Dialog Kebangsaan yang tujuannya sebagai bentuk pengoptimalan pembangunan dan pelaksanaan nilai kesadaran berbangsa dan bernegara.


"Tujuannya, Bagaimana meningkatkan kesadaran kita sebagai warga Negara Kesatuan Republlik Indonesia (NKRI). Wawasan kebangsaan ini perlu dimantapkan sebagai semangatmempererat persatuan, serta mengingat bagaiman perjuangan Bung Hatta dalam memerdekakan Republik Indonesia," ujarnya.

Dikesempatan itu, Ferizal juga menjelaskan bagaimana bahwa Kabupaten Limapuluh Kota yang sudah berdiri 176 tahun lalu, ikut andil dalam kemerdekaan Republik Indonesia. "Di sini, sangat banyak potensi yang kita miliki, dimana lahir pejuang-pejuang bangsa seperti Bapak Republik Indonesia, Tan malaka, termasuk Bung Hatta yang merupakan keturunan daerahnya dari kabupaten Limapuluh Kota," tambahnya.

Sementara, putri Bung Hatta, Gemala Hatta dalam kuliahnya mengatakan ucapan terimakaasih atas segala acara yang diadakan untuk mengenang Bung Hatta. "Sungguh suatu kehormatan bagi kami, karena acara ini dekat dengan ulang tahun Bung Hatta dan juga peringatan hari proklamasi kemerdekaan indonesia yang beliau proklamirkan," terang Gemala.

"Untuk itu, perkenalkan saya sebagai anggota keluarga mengajak semua mengenal buah pikirannya yang menunjukkan kepedulian Bung Hatta kepada NKRI," tambahnya.

Dikatakan, musuh kita saat ini adalah kemiskinan, pengangguran, kejahatan, terorisme dan kejahatan lainnya. Kita tidak bisa mengatasi musuh bersama ini, bila tidak bersatu antarbangsa Indonesia. "Maka seharusnya kita bisa mencegah semua bentuk kekerasan dan kesedihan dengan berdasarkan prinsip Bung Hatta, agar kita hidup dalam kebersamaan dan saling tolong sebagaimana yang terdapat dalam budaya Minangkabau," tambahnya.

Sejak dekade 1930-an, telah diingatkan Bung Hatta bahwa yang harus dibangun adalah persatuan hati, bukan persatuan orang sesaat. Jadi janganlah persatuan hanya sekadar berkumpul tetapi tidak terjadi persatuan hati.

"Kondisi sekarang terasa sekali kata-kata bung hatta itu bahwa kesatuan tanpa persatuan mangka perkotak-kotakan akan semakin marak, ini bahaya karena kitalah sebagai bangsa harus melindungi negara kita secara bersama-sama," jelasnya.

Kaum birokrat dan kaum akademisi mereka harus memahami desain pembangunan indonesia yang disusun para pendiri bangsa demi tercapainya kesejhatraan rakyat. "Rakyat berhak mendapatkan pekerjaan dan hidup layak, tanpa itu mustahil mereka dapat meraih pendidikan yang tinggi untuk bisa menyadari haknya untuk menjadi warga negara yang andal," katanya.

Saat ini, kiranya hal yang diarasakan krusial untuk dilakukan adalah menanamkan kesadaran pada para pengambil keputusan,untuk mendorong terbentuknya gerakan yang dapat menggagalkan pola pikir terjajah menjadi pola pikir bangsa yang merdeka di lingkungan masyarakat.

"Melemahnya rasa kebersamaan dan persatuan di lingkungan masyarakat karena yang mengambil keputusan belum cukup paham bahwa pembangunan nasional dan pembangunan daerah ditujukan untuk pembangunan manusia agar lebih sejahtra.Terjadinya hal itu, terkait adanya kondisi bahwa pelajaran sejarah kuarng tersusun dengan baik," pungkasnya. (rls/kyo)

emzalmi-desri
Berita Ranah lainnya
Berita Kab. Lima Puluh Kota lainnya