Tokoh Masa Lalu Sampaikan Pesan Lewat Puisi

AI Mangindo Kayo | Jumat, 11-08-2017 | 10:35 WIB | 125 klik | Kab. Lima Puluh Kota
<p>Tokoh Masa Lalu Sampaikan Pesan Lewat Puisi<p>Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan memberi arahan pada workshop baca puisi tingkat SMA se-Kabupaten Limapuluh Kota, di gedung Sago Bungsu, Kamis (10/8/2017). (humas)

VALORAnews - Puisi adalah rangkaian kalimat yang tersusun penuh makna dan sarat pesan moral yang tersusun dalam kalimat dengan rangkaian kata yang indah. Sebagian pesan-pesan dan semangat juang kemerdekaan republik ini, berasal dari kalimat dan kata-kata puisi.

Demikian dikatakan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan dalam sambutannya ketika membuka workshop baca puisi tingkat SMA se-Kabupaten Limapuluh Kota, di gedung Sago Bungsu, Kamis (10/8/2017).

"Hakikatnya puisi itu adalah lontaran kalimat dari hati sebagai wujud syukur. Unsur seni budaya atau karya sastera itu harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Karenanya, kita sangat mendukung kegiatan work shop baca puisi ini agar siswa di Kabupaten Limapuluh Kota benar-benar mampu meningkatkan kemampuannya dalam membaca dan memaknai puisi," ungkap Ferizal.


Dikatakan Ferizal, tempo lalu banyak tokoh yang sukses berdakwah dengan puisi, terutama para tokoh yang berasal dari kawasan timur termasuk dari Minangkabau. Bahkan orang Minangkabau cukup dikenal berkomunikasi dengan kata-kata kiasan, pantun dan kalimat-kalimat puisi.

"Dari sederet tokoh pejuang di republik ini, umumnya mereka sukses menyebarluaskan pesan-pesannya melalui kata-kata puisi. Kita berharap, acara ini bisa menjadi ajang menyalurkan dan mengembangkan bakat generasi muda agar mereka juga mahir berpuisi seperti para tokoh terdahulu," ujar Ferizal yang akrab disapa Buya.

Menurutnya, sebagian semangat juang yang digelorakan para tokoh buat kemerdekaan republik ini, berasal dari pesan-pesan puisi. Salahsatu pesan tersebut adalah kalimat "bangunlah jiwanya, bangunlah badannya" seperti yang ada dalam bait lagu Indonesia Raya.

Atau kalimat-kalimat puisi Tan Malaka seperti "Merdeka 100 Persen" yang masih relevan hingga saat ini. Begitu pula dengan puisi Safrudin Prawiranegara yang menyebutkan "jangan kehilangan objektifitas sekalipun terhadap orang yang tidak disukai".

Diharapkan Ferizal, pelaksanaan workshop ini dilakukan di tempat-tempat yang lebih bermakna dan bersejarah seperti di rumah sastrawan Khairil Anwar atau pahlawan Tan Malaka.

"Kalau dilaksanakan di rumah Khairil Anwar, kita berharap pesertanya lebih terinspirasi, lebih menjiwai dan mengenal siapa itu Khairil Anwar. Begitu juga dengan Tan Malaka dan tokoh-tokoh lainnya yang ada di daerah ini," papar Ferizal.

Dikesempatan itu, Ferizal juga meminta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan tidak hanya menyimpan atau mengarsipkan buku-buku, melainkan membuat inovasi agar buku-buku itu dibaca dan diminati generasi terutama kalangan siswa.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Radimas dalam laporannya menyebut, kegiatan yang diikuti oleh 50 siswa asal 25 SMA di daerah ini, antara lain bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menumbuhkembangkan kegemaran membaca, menarik minat baca siswa terhadap karya sastra.

Selain itu, juga untuk mengenalkan karya penyair-penyair Indonesia khususnya penyair dari Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh, serta untuk mengasah keterampilan siswa membaca puisi dan karya sastera.

Sedangkan materi workshop berupa cara membaca puisi yang baik dan sesuai ketentuan membaca puisi. Ikut hadir dalam acara itu Kabag Humas dan Pemberitaan Setkab Limapuluh Kota, H Joni Amir. (rls/kyo)

Berita Pendidikan lainnya
Berita Kab. Lima Puluh Kota lainnya