Dua Mahasiswa Limapuluh Kota Ditangkap di Mesir, Ferizal: Kita Tanggung Biaya Pemulangan

AI Mangindo Kayo | Jumat, 11-08-2017 | 16:04 WIB | 136 klik | Kab. Lima Puluh Kota
<p>Dua Mahasiswa Limapuluh Kota Ditangkap di Mesir, Ferizal: Kita Tanggung Biaya Pemulangan<p>Ilustrasi.

VALORAnews - Kabar penangkapan dua orang mahasiswa asal Kabupaten Limapuluh Kota oleh aparat keamanan pemerintahan Mesir, mengundang simpatik pemerintah daerah Kabupaten Limapuluh Kota. Wakil Bupati, Ferizal Ridwan, memastikan hingga Kamis (10/8/2017) malam, ia terus menjalin komunikasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir.

"Hasil koordinasi kita dengan pihak KBRI tadi malam, kini kedua mahasiswa kita masih ditahan oleh pihak keamanan Mesir. Tapi, kemungkinan mereka akan dideportasi ke Indonesia. Untuk biaya pemulangan keduanya, akan ditanggung pemkab Limapuluh Kota," kata Ferizal, ketika pelaksanaan apel pagi di halaman kantor bupati, kawasan Sarilamak, Jumat (11/8/2017).

Dalam arahanya, Ferizal menginstruksikan ke jajaran OPD, agar mencarikan anggaran sosial guna menanggulangi seluruh biaya pemulangan dua mahasiswa, seandainya mereka dideportasi ke Indonesia. Termasuk meminta pejabat dan staf menggalang donasi sosial secara sukarela, sebagai bukti kepedulian pemerintah daerah terhadap nasib warganya.


Usai apel pagi, pengumpulan donasi pun dilangsungkan. Selain di jajaran pemerintah daerah, Ferizal memastikan, juga telah mengajak beberapa organisasi perantau Limapuluh Kota, mulai dari Gonjong Limo dan PKP Pangkalan.

"Alhamdulillah sudah mulai terkumpul, nanti donasi ini kita gunakan untuk biaya pemulangan kedua mahasiswa kita," tukas pria yang akrab disapa Buya Feri itu. (Baca: Begini Kronologis Dua Mahasiswa Asal Limapuluh Kota Ditangkap Tentara Mesir)

Dia memperkirakan, biaya pemulangan/deportasi kedua mahasiswa bakal menelan biaya sekitar Rp12-20 juta. Pada Kamis siang kemarin, Ferizal mengaku juga sudah berkomunikasi dengan pihak keluarga kedua mahasiswa yaitu keluarga Nurul Islami asal Situjuah dan Muhammad Hadi asal Baruah Gunuang.

Kedua orang tua mahasiswa datang ke kantor Bupati Limapuluh Kota, guna meminta bantuan pemulangan anak-anak mereka. Mereka mengikuti study pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, lalu ditahan pihak keamanan Markaz Aga, Provinsi ad-Daqohliyyah. Keduanya ditahan sejak 1 Agustus 2017 lantaran dituduh memasuki zona terlarang. (rls/kyo)

Berita Pendidikan lainnya
Berita Kab. Lima Puluh Kota lainnya