Tumpahan CPO Rusak Ekosistem di Telukbayur

Walhi Desak Pemprov Tinjau Ulang Izin Lingkungan PT Wira Inno Mas

AI Mangindo Kayo | Jumat, 29-09-2017 | 11:19 WIB | 228 klik | Kota Padang
<p>Walhi Desak Pemprov Tinjau Ulang Izin Lingkungan PT Wira Inno Mas<p>Perairan laut Telukbayur yang terdampak tumpahan minyak sawit mentah akibat bocornya pipa di salah satu CPO Storage PT Wira Inna Mas, Kamis (28/9/2017) pagi. (vebi rikiyanto/valoranews)

VALORAnews -- Minyak kelapa sawit atau biasa disebut Crude Palm Oil (CPO) mengandung Biological Oxigen Demand (BOD) dengan kadar tinggi. Zat ini sangat berbahaya bagi biota laut, karena dia jadi bahan pencemar berbahaya bagi lingkungan.

"Diperkirakan ada sebanyak 50 ton perairan Teluk Bayur, Padang yang tercemar tumpahan CPO dari PT Wira Inno Mas. CPO atau minyak mentah kelapa sawit itu, jika terbuang kelingkungan akan jadi bahan pencemar yang berbahaya," ungkap Direktur Walhi Sumbar, Uslaini dalam siaran pers yang diterima, Jumat (29/9/2017).

Pada Kamis pagi kemarin, salah satu tangki penampungan CPO milik PT Wira Inno Mas bocor. Akibatnya, minyak yang akan dieksport keluar negeri itu, tumpah ke dalam laut. Hal ini terjadi, karena lokasi CPO storage ini berada persis di pinggir laut.


Dikatakan Uslaini, kawasan Telukbayur dan perairan sekitarnya, merupakan kawasan yang kaya akan Ikan Pelagis yaitu jenis ikan yang hidup diperairan dangkal dengan kedalaman 0-200 meter. Minyak sawit yang memenuhi permukaan laut ini, terangnya, tentu akan memengaruhi jenis ikan yang akhirnya dapat menyebabkan ikan itu keracunan dan mati.

"Molekul minyak akan menghalangi cahaya matahari dan oksigen masuk kelaut, yang ditutupi oleh minyak sawit. Hal ini juga akan berpengaruh bagi terumbu karang dan biota bawah laut lainnya," terang Uslaini.

Terhalangnya cahaya matahari dan oksigen, tambah dia, juga akan memengaruhi proses fotosintesis dan respirasi biota laut. Dalam jangka panjang, akan memicu terjadinya coral bleaching dan kematian biota laut.

"Tumpahan minyak sawit ini, juga akan mempengaruhi jenis mamalia laut dan kura-kura, dimana kawasan perairan sekitar Telukbayur juga merupakan habitat kura-kura. Minyak sawit ini akan masuk kedalam paru-paru mamalia dan reptil laut ini sehingga menyebabkan mereka keracunan dan mati," terang dia.

Selain itu, tegas Uslaini, bioplankton dan mikroorganisme laut yang ada dipermukaan, akan langsung mati akibat tumpahan minyak CPO itu. Hal ini akan berpengaruh terhadap ikan-ikan yang ada disekitar perairan dan tentunya akan mengganggu rantai makanan bagi ekosistem di sana.

Kemudian, cemaran minyak sawit juga akan mempengaruhi jenis burung yang selama ini mencari ikan, sebagai sumber makanan mereka di kawasan itu. "Mereka akan memakan ikan yang sudah keracunan atau tercemar minyak sawit sehingga burung camar atau bangau ini akan ikut teracuni," tambahnya.

Cemaran minyak kelapa sawit ini, dinilai berpotensi melebar karena berada dipermukaan sehingga mudah dibawa arus laut apalagi kondisi cuaca dikota Padang saat ini hujan dan berangin kencang. Hal ini tentu akan mempengaruhi kerja tim dalam membersihkan tumpahan minyak sawit ini.

Terkait dengan kelalaian perusahaan dalam mengelola usahanya sehingga menimbulkan pencemaran, Uslaini menyarankan pemerintah provinsi, menindak tegas terutama melakukan evaluasi ulang izin lingkungan yang dimiliki perusahaan.

"Perlu segera dilakukan review terhadap dokumen lingkungan perusahaan khususnya dalam hal pencegahan dan pengendalian dampak lingkungan dari usaha perusahaan," terangnya.

Pemerintah dan perusahaan selain melakukan pengendalian dan pemulihan lingkungan hidup pascakejadian ini, terang dia, juga sangat penting dan harus segera dilakukan adalah audit lingkungan untuk melihat dampak dari pencemaran teluk secara keseluruhan.

"Kita berharap, Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat dan pihak terkait lainnya bergerak cepat untuk menangani persoalan ini, mengingat di lokasi yang sama banyak usaha sejenis yang berpotensi menimbulkan dampak yang sama kedepan," nilai Uslaini. (vri)

Berita Bisnis lainnya
Berita Kota Padang lainnya