Revitalisasi Kawasan SRG, Yori: Kita Kerjakan dengan Gotong-royong

AI Mangindo Kayo | Jumat, 13-10-2017 | 06:20 WIB | 147 klik | Kab. Solok Selatan
<p>Revitalisasi Kawasan SRG, Yori: Kita Kerjakan dengan Gotong-royong<p>Bupati Solok Selatan, Muzni Zakaria tengah berdiskusi bersama Yori Antar, Joy Sukbianto dan rombongan untuk penataan kawasan SRG untuk lebih baik. (humas)

VALORAnews - Pemerintah Kabupaten Solok Selatan semakin serius mengupayakan kawasan kampung adat Saribu Rumah Gadang (SRG) menjadi kawasan cagar budaya. Hal itu ditandai dengan sosialisasi penetapan Cagar Budaya di SRG tersebut, tepatnya di balai adat KAN Koto Baru, Rabu (11/10/2017).

Bupati Solsel, Muzni Zakaria menyebutkan, pihaknya siap bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Tidak hanya Balai Cagar Budaya, sebutnya, pihaknya juga turut menggandeng ahli arsitek, Yori Antar untuk mengembangkan dan membenahi kawasaki SRG menjadi lebih indah.

"Kemudian juga ada Joy Sukbianto. Sutradara yang sudah terkenal dalam hal mendekorasi, juga kita libatkan untuk menata kawasan SRG menjadi lebih baik. Kita siap menerima masukan dan sumbangsih saran dari Yori Antar dan kawan-kawan," sebut Muzni.


Pemkab Solsel sendiri, jelasnya, sudah lama merencanakan hal itu. Upaya yang dilakukan oleh Pemkab itu juga telah mendapat dukungan dari masyarakat sekitar. Tinggal, kata Muzni, bagaimana mewujudkan itu menjadi nyata.

"Kita telah memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa tidak kerugian yang akan dialami oleh mereka jika kawasan SRG benar menjadi cagar budaya. Dengan adanya dukungan dari masyarakat, kita serius mewujudkannya termasuk dukungan dana nantinya. Rencana inipun telah ditindaklanjuti oleh pihak Balai," ujarnya.

Sementara, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Solsel, Bujang Basri mengaku, berbagai tahapan telah dilalui pihak balai dan juga Pemkab Solsel terkait penetapan Cagar Budaya ini.Yang perlu dipahami, katanya, penetapan cagar budaya bukan berarti memindahkan kepemilikan ke pemerintah.

"Tahapan itu termasuk sosialisasi yang diadakan hari ini (kemarin, red) merupakan bagian dari tahapan yang dilakukan. Setelah ini, akan dilanjutkan diskusi dengan para ahli terkait. Kemudian setelah itu diharapkan Surat Rekomendasi dari balai bisa diterbitkan, sebagai dasar penetapan SK Bupati tentang Cagar Budaya tersebut," pungkasnya.

Di Kawasan SRG sendiri, lanjutnya, terdapat113 obyek calon cagar budaya. Terdiri dari 109 Rumah Gadang, 2 Mesjid dan satu Mushalla serta satu makam dari Syekh Maulana, pelopor dari pengembangan Agama Islam di Solsel.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumbar, Riau dan Kepri, Nurmatias mengatakan, peluang kawasan SRG menjadi kawasan cagar budaya sangat bagus. Bahkan, sebutnya, tak tertutup kemungkinan bisa diikuti oleh rumah gadang yang lain di Solsel.

"Namun, untuk sementara, kita fokus dulu mengupayakan kawasan SRG dan selanjutnya mudah-mudahan bisa berlanjut ke tempat-tempat lain di Solsel," katanya.

Sebelumnya, Nurmatias juga mengatakanpengakuan cagar budaya tersebut bisa terealisasi dengan hasil penelitian oleh tim ahli yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Solsel Muzni Zakaria.Tanpa SK bupati, katanya, kegiatan yang dilakukan belum diakui sebagai sebuah warisan cagar budaya.

"Tim ahli cagar budaya ini bertugas untuk meneliti kelayakakan SRG masuk cagar budaya atau tidak. Tim sendiri dibentuk dengan melibatkan masyarakat, pemerhati budaya dan OPD terkait," tuturnya.

Sementara, Yori Antar, ahli arsitek yang juga dikenal dengan Pendekar Arsitektur Nusantara yang turut digandeng Pemkab Solsel dalam membenarkan kawasan SRG menyebutkan, kawasan SRG memilik keunikan. Namun, katanya, keindahan yang dimiliki kawasan SRG sedikit dirusak, dengan kondisi banyaknya rumah gadang yang tak terawat bahkan hampir punah.

"Saya menemui keindahan dan keunikan yang luar biasa di sini. Kawasan ini kami nilai sudah sangat siap jadi desa wisata, apalagi dengan banyaknya homestay yang bermunculan. Sedikitnya 10 home stay sudah tumbuh dengan baik, bersih, ada pangan lokal dan hal-hal lain yang akan mampu menarik banyak orang," ujarnya.

Diakui, pihaknya siap membantu menata kawasan SRG tersebut. Namun bantuan yang akan diberikan katanya, bukan bersifat project melainkan sumbangsih pikiran tentang bagaimana membuat SRG menjadi lebih unik dan indah.

"Yang mengerjakan nantinya, masyarakat di sini dengan gotong-royong bersama-sama membangunnya. Kita telah bangun rumah-rumah adat di 15 daerah di Indonesia, termasuk di Nias dan juga Sumpur di Provinsi Sumbar ini. Semuanya dibangun dengan bergotong-royong dengan masyarakat," terang Yori. (rls)

Berita Ranah lainnya
Berita Kab. Solok Selatan lainnya