Pergerakan Harga Sumbar Disumbang Kota Padang dan Bukittinggi

AI Mangindo Kayo | Selasa, 02-01-2018 | 16:19 WIB | 126 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Pergerakan Harga Sumbar Disumbang Kota Padang dan Bukittinggi<p>Ilustrasi.

VALORAnews - Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan Sumbar pada Desember 2017 mengalami peningkatan atau inflasi sebesar 0,68% (mtm) setelah sebelumnya inflasi sebesar 0,46% (mtm). Secara spasial bulanan, pergerakan harga Sumbar disumbang Kota Padang dan Bukittinggi yang masing-masing mencatatkan inflasi 0,72% (mtm) dan 0,37% (mtm).

"Kondisi tersebut menjadikan Kota Padang sebagai kota dengan inflasi tertinggi ke-36 dan Bukittinggi sebagai kota dengan inflasi terendah ke-7 dari 82 kota/kab sampel inflasi di seluruh Indonesia," ungkap Wakil Ketua Tim Koordinasi/Ahli Tim Pengendalian Inflasi Daerah Sumbar, Endy Dwi Tjahjono dalam siaran pers yang diterima.

Dikatakan Endy, pergerakan harga pada Desember tersebut sejalan dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,71% (mtm). Sementara, laju inflasi tahunan (%yoy) dan tahun berjalan (%ytd) pada akhir tahun bernilai sama yaitu Sumbar sebesar 2,03%, berada di bawah inflasi nasional sebesar 3,61%. Laju inflasi bulanan (mtm) Sumbar pada Desember 2017 merupakan yang tertinggi ke-21 dari 33 provinsi secara nasional.


"Inflasi bulanan Sumbar disumbang oleh kenaikan harga kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food), kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price) dan kelompok inti (core)," terangnya.

Pada kelompok volatile food, inflasi Desember 2017 tercatat sebesar 2,06% (mtm) dengan laju yang meningkat dibandingkan dengan inflasi November 2017 sebesar 1,33% (mtm). Kenaikan harga pada kelompok ini disumbang kenaikan harga cabai merah, tongkol/ambu-ambu, daging ayam ras, telur ayam ras, beras dan jengkol dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,27% (mtm); 0,08% (mtm); 0,04% (mtm); 0,04% (mtm); 0,03% (mtm); dan 0,02% (mtm).

Kenaikan harga cabai merah disebabkan oleh terbatasnya hasil panen di sentra produksi baik di Sumbar maupun di Jawa disertai gagal panen akibat tingginya curah hujan sehingga cabai merah menjadi cepat busuk. Kenaikan harga tongkol/ambu-ambu disebabkan oleh turunnya hasil tangkapan nelayan akibat gangguan cuaca.

Kenaikan harga daging ayam ras, telur ayam ras dan jengkol terjadi seiring dengan tingginya permintaan menjelang liburan natal dan tahun baru. Gangguan pasokan beras turut memicu kenaikan harga beras sebagai dampak tidak optimalnya penjemuran gabah akibat tingginya curah hujan di beberapa daerah sentra produksi.

Kenaikan harga lebih lanjut kelompok volatile food sedikit tertahan dengan turunnya harga apel, daging sapi, daun bawang, bayam dan wortel dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,01% (mtm).

Kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price) mengalami inflasi sebesar 0,28% (mtm), meningkat tipis dari sebelumnya inflasi sebesar 0,24% (mtm). "Inflasi kelompok administered price disumbang oleh kenaikan bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi sebesar 0,04% (mtm) sebagai dampak kenaikan harga LPG di tingkat pedagang pengecer," terang Endy.

Pada kelompok inti, inflasi Desember 2017 tercatat sebesar 0,19% (mtm) meningkat tipis dibandingkan inflasi November 2017 sebesar 0,14% (mtm). Kenaikan harga pada kelompok ini disumbang oleh kenaikan harga sewa rumah dan besi beton dengan andil inflasi masing-masing 0,05% (mtm) dan 0,02% (mtm).

Kenaikan harga kelompok inti lebih lanjut tertahan dengan penurunan harga bumbu masak jadi, kopi bubuk, dan parfum dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Secara keseluruhan, kelompok volatile food, administered price dan inti, memberi andil inflasi masing-masing sebesar 0,51% (mtm); 0,07% (mtm); dan 0,09% (mtm) terhadap inflasi bulanan Sumbar 0,68% (mtm).

Mencermati tren peningkatan harga pangan strategis, terang Endy, TPID Kota Padang melakukan aksi nyata pengendalian harga dengan melakukan pasar murah. Pelaksanaan pasar murah dilakukan pada Minggu (17/12/2017) di GOR H. Agus Salim mempertimbangkan ramainya kawasan pada hari tersebut.

Bekerjasama dengan Bulog Divre Sumbar, TPID Kota Padang mensuplai cabai merah, bawang merah, beras, minyak goreng serta horikultura yang tentunya berada di bawah harga pasar. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat mengurangi tekanan permintaan di pasar sehingga kenaikan harga lebih lanjut dapat dikendalikan.

Tekanan inflasi ke depan, terang Endy, diprakirakan cukup moderat. Sumber tekanan inflasi diprakirakan berasal dari kelompok volatile food dan administered price. Pada kelompok volatile food, kenaikan harga diprakirakan masih akan berlanjut khususnya pada komoditas cabai merah seiring dengan gangguan panen dari sentra produksi akibat tingginya curah hujan.

Prakiraan cuaca BMKG menunjukkan curah hujan pada Januari 2018 cenderung tinggi di hampir semua wilayah di Sumbar dengan sifat hujan beragam pada tingkat normal hingga di atas normal. Kondisi cuaca tersebut berisiko memengaruhi hasil panen seperti cabai merah yang tidak tahan lembab serta proses penjemuran gabah yang selama ini masih mengandalkan sinar matahari.

Sementara itu, curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa diprakirakan tinggi dengan sifat hujan mayoritas pada tingkat normal. Kondisi cuaca di Jawa tersebut masih berisiko tinggi pada produksi hasil pertanian terutama untuk komoditas cabai merah yang selama ini banyak masuk ke Sumbar.

Pada kelompok barang yang diatur pemerintah, tekanan inflasi diprakirakan berasal dari kenaikan harga tiket pesawat seiring dengan masih berlangsungnya arus balik pasca liburan natal dan tahun baru. Pada kelompok inti, tekanan inflasi diprakirakan relatif stabil. (vri)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Bisnis lainnya
Berita Provinsi Sumatera Barat lainnya