Inspiration Talk #6 Komunitas Pulangkampuang

Integritas jadi Taruhan Utama Bisnis Orientasi Ekspor

AI Mangindo Kayo | Sabtu, 03-03-2018 | 19:49 WIB | 220 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Integritas jadi Taruhan Utama Bisnis Orientasi Ekspor<p>Pemilik CV Mutiara Pinang, Marta Gunawan, berbagi pengalaman pada Inspiration Talk #6 yang diinisiasi komunitas pulangkampuang.com di aula FT UNP, Sabtu (3/3/2018). (mangindo kayo/valoranews)

VALORAnews - Semua produk yang ada di Indonesia, dibutuhkan pasar luar negeri. Namun, yang tak kalah penting saat menjual produk Indonesia ke luar negeri, bisa menciptakan nilai tambah dari produk itu lebih dulu.

"Jika produk kita telah memiliki nilai tambah, maka harganya akan jauh lebih mahal jika kita sekadar menjual barang mentah," ungkap pemilik CV Mutiara Pinang, Marta Gunawan, pada Inspiration Talk #6 yang diinisiasi komunitas pulangkampuang.com di aula FT UNP, Sabtu (3/3/2018).

Menurut Marta yang asli Kinali, Pasaman Barat itu, merintis bisnis yang berorientasi eksport itu sangat menantang. "Bisnis ekspor itu dijamin negara. Namun, taruhan utamanya adalah integritas pribadi. Jangan main-main dengan ini (integritas-rd). Sekali menipu, maka pembeli luar negeri itu akan mencatatnya hingga seluruh keturunan kita," terang Marta yang mengaku kerap merasakan pahitnya bisnis eksport.


Marta pun berkisah tengan awal karirnya berusaha yang dimulai dengan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) saat masih menempun studi administrasi negara di UNP pada 2004 silam. "Saat itu saya dapat Rp40 juta. Proposalnya untuk distro, tapi saya mengalihkannya ke bisnis pinang yang banyak diproduksi di kampung saya di Pasbar," kata Marta berkisah.

Dengan modal Rp40 juta itu, terang Marta, dia mulai mengumpulkan pinang dari petani. Mengumpulkannya mulai per kilogram hingga mencapai jumlah ton. "Pos polisi di Simpang Gudang Pasbar sempat jadi gudang kami dulunya. Akhirnya, usaha itu tak berjalan sesuai bayangan semula," terang Marta.

Kegagalan itu tak membuat Marta surut. Dia kemudian mempelajari cara mengekspor langsung sebuah produk ke pembeli di luar negeri. Dia kemudian mengurus seluruh dokumen untuk bisa melakukan ekspor sendiri. Setelah dokumen lengkap dan calon pembeli luar negeri didapat, masalah kembali menghampiri. Kualitas barang yang dibeli, ternyata tak sesuai spesifikasi yang dibutuhkan calon pembeli.

"Kesimpulannya, jika berbisnis dengan pembeli dari luar negeri, kita harus mengirim barang sesuai kontrak baik itu jumlah maupun kualitas. Agar kualitas terjaga, maka libatkan lah Sucofindo atau IMO dari Swiss. Tak masalah biaya bertambah, tapi kepercayaan pembeli kita dapat," terangnya.

Komitmennya untuk menjaga integritas pribadi dalam berbisnis, akhirnya berbagai tawaran datang dari pembeli luar negeri. "Saya sempat diminta untuk menyuplai Kacang Mete ke Nepal. Kemarin, saya juga meng-eksport rumput ke Kobe, Jepang," ungkap Marta mengilustrasikan pentingnya menjaga kepercayaan pembeli.

Berbisnis dengan orientasi ekspor, menurut dia, juga tak mahal. Diperkirakan, biaya ekspor ke Eropa itu tak sampai Rp600 per kilogramnya. "Saat ini, banyak permintaan produk organik disamping produk bersertifikat halal. Kalau ada teman-teman yang punya usaha seperti itu, mari kita bisnis bersama," kata Marta, yang mulai membeli kebutuhan ekspornya dari sesama eksportir. (kyo)

Selamat Hari Raya Idul Fitri dari Hendra Irwan Rahim

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Bisnis lainnya
Berita Provinsi Sumatera Barat lainnya