• Jumat, 17-02-2017 • 07:58 WIB

Memaknai Valentine dalam Koridor Islam

Amrullah*

*General Affair DDS

<p>Memaknai Valentine dalam Koridor Islam<p>

Hari Valentine, jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahun, biasanya dirayakan oleh kaula muda tanpa kecuali, baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Tradisi perayaan ini sudah mulai merebak kemana-mana mulai dari pelosok-pelosok kampung hingga tempat-tempat hiburan di diskotik-diskotik, hotel-hotel dan lain-lain. Ironisnya mereka tak mau tau apakah Valentine Day ini bersumber dari ajaran Islam atau tidak.

Valentine yang diartikan sebagai hari penyampaian atau pesan kasih sayang sebenarnya adalah seorang martir yang rela mati karena mempertahankan kepercayaannya (dalam Islam disebut syahid). Ia seorang dermawan dan bergelar Santo, karena berseberangan dengan penguasa Romawi pada waktu itu yaitu Raja Claudius II (268-270 M). Valentine dibunuh pada tanggal 14 Februari 270 M.

Untuk mengenang St. Valentine ini, sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan, maka para pengikutnya merayakan hari kematiannya pada setiap tanggal 14 Februari sebagai upacara keagamaan. Akan tetapi sejak abad ke-16 M, upacara keagamaan tersebut sudah mulai pudar dan berangsur-angsur hilang dan berobah dari hari perayaan keagamaan menjadi hari pesta jamuan kasih sayang Romawi Kuno yang disebut "Supecalis" yang jatuh pada tanggal 15 Februari.


Akhirnya setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani, hari pesta jamuan kasih sayang itu dihubungkan dengan upacara kematian St. Valentine sebagai hari kasih sayang, sesuai dengan kepercayaan orang-orang Eropa bahwa hari kasih sayang itu jatuh pada tanggal 14 Februari dan dilambangkan dengan "Sepasang burung jantan dan betina".

Jika kita melihat kepada asal usulnya sejak 1700 tahun yang lalu, nampak jelas trik-trik untuk merusak aqidah muslim dan muslimah pun turut bergeser, dari animisme, (mempercayai benda dan mengkeramatkannya), menjadi cara hedonisme (menjadikan kelezatan sebagai standard kebaikan), yaitu dengan cara menampilkan dan memperkenalkan gaya hidup Barat, dengan kedok percintaan, kasih sayang dan lain-lain.

Islam agama yang konsisten tidak ikut-ikutan, meniru-niru keyakinan dan gaya hidup Barat bukan bagian dari ajaran Islam, meskipun berkedok kebaikan dan kasih sayang, karena Islam telah mengatur cara-cara untuk menanam kebaikan dan menyediakan fasilitasnya (wasilah). Rasul Saw. bersabda : Siapa-siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat suatu kebaikan, Allah berikan kepadanya kepahaman tentang agama Islam. (Al-Hadis). Ajaran kasih sayang yang diikuti lewat memperingati Valentine Day bukanlah ajaran Islam, Rasul Saw. melarang untuk meniru-niru cara agama lain : Siapa-siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) dia termasuk kaum (agama) itu.

Tapi, kasih sayang yang dimaksud oleh Islam adalah kasih sayang yang berada dalam koridor Islam, dan mengikuti cara-cara yang dibuat oleh Nabi Saw, yaitu dibungkus dengan iman, bukan kasih sayang yang dibingkai dengan syahwat dan nafsu. Kasih sayang yang permanen bukan kasih sayang satu jam untuk sehari, dan sehari untuk satu tahun. (*)

lainnya