• Jumat, 03-03-2017 • 09:56 WIB

Bencana Alam dan Kemiskinan

Musfi Yendra*

*Pembina DD Singgalang

<p>Bencana Alam dan Kemiskinan<p>

Kurun waktu belakang ini di berbagai tempat di Indonesia sering terjadi bencana alam. Seperti banjir, longsor dan gempa bumi.

Menurut United Nations International Stategy for Disaster Reduction (UNISDR) sebuah Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana, Indonesia merupakan negara yang paling rawan bencana alam di dunia.

Berbagai bencana alam mulai gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan rawan terjadi di Indonesia.


Bahkan untuk beberapa jenis bencana alam, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam paparan terhadap penduduk atau jumlah manusia yang menjadi korban meninggal akibat peristiwa ini.

Tak hanya kerugian material dan korban nyawa yang diakibatkan oleh bencana alam, namun bencana juga merupakan variabel meningkatnya angka kemiskinan.

Menurut Undang-Undang Propenas Nomor 25/2000 menyebutkan berdasarkan penyebabnya kemiskinan dibedakan menjadi dua.

Kemiskinan kronis (chronic poverty) yang disebabkan oleh pertama, sikap dan kebiasaan hidup masyarakat yang tidak produktif.

Kedua, keterbatasan sumber daya dan keterisolasian. Ketiga, rendahnya taraf pendidikan dan derajat kesehatan, terbatasnya lapangan kerja, dan ketidakberdayaan masyarakat.

Kemiskinan sementara (transient poverty) yang disebabkan, pertama, perubahan siklus ekonomi dari kondisi normal menjadi krisis ekonomi.

Kedua, perubahan yang bersifat musiman seperti kasus kemiskinan nelayan dan pertanian tanaman pangan. Ketiga, bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan.

Kemiskinan yang muncul pasca bencana alam sering luput dari perhatian, termasuk pemerintah. Bahkan kita pernah mendengar, ketika bencana alam di Banjarnegara beberapa bulan lalu, pemerintah kehabisan pasokan bantuan untuk masyarakat. Beruntung banyak lembaga sosial masyarakat ikut berkontribusi.

Bencana alam dan kemiskinan ibarat lingkaran setan. Keduanya saling berpengaruh. Bencana menyebabkan kemiskinan, sebaliknya kemiskinan juga bisa menyebabkan bencana. Program mitigasi bencana yang intens adalah cara paling efektif mengedukasi masyarakat, terutama di daerah rawan.

Selain itu pemerintah pusat dan daerah juga harus menyiapkan anggaran untuk penanggulangan kemiskinan pasca bencana alam terjadi. Tidak hanya concern pada masa tanggap darurat dan rehab saja.

Perbankan juga harus care memberikan peluang permodalan bagi masyarakat terdampak bencana alam.

Lembaga sosial Dompet Dhuafa juga membuat program khusus untuk menumbuhkan kembali geliat ekonomi masyarakat untuk bertahan hidup.

Membangun lembaga keuangan mikro yang memberikan permodalan tanpa bunga (qardul hasan), bisa menjadi sebuah model yang dikembangkan. Tanpa syarat yang rumit dan berbelit, masyarakat bisa memulai kembali usahanya. (*)

lainnya