• Jumat, 30-08-2019 • 15:54 WIB

Generation Gap Syndrome

Emeraldy Chatra*

*Akademisi FISIP Unand

<p>Generation Gap Syndrome<p>

Ketika melakukan penelitian untuk disertasi di Subang, Jabar, tahun 2014 saya menemukan konsep musuh di kalangan remaja-remaja yang menganut ideologi seks bebas. Ada dua 'jenis manusia' yang mereka anggap musuh, yaitu orang tua sendiri dan guru. Jika direfleksikan ke umur, musuh-musuh itu usianya di atas 40 tahun.

Oleh karena guru dan orang tua dianggap musuh mereka tidak hanya sekedar curiga kepada kedua. Mereka pun menolak berkomunikasi. Bahkan banyak pula yang kabur dari rumah dan tinggal bersama teman-teman sebaya agar tidak lagi berhubungan dengan ibu bapaknya sendiri.

Mulanya saya melihat fenomena seperti itu alamiah saja. Ada aksi, ada reaksi. Mungkin orang tua atau guru sudah tak mampu memahami pikiran generasi di bawah mereka, sehingga timbul pemberontakan.


Namun sekarang saya punya pikiran berbeda: itu tidak alamiah, tapi fabricated , hasil dari sebuah skenario yang tujuannya menciptakan generasi yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi itu punya budaya sendiri, tidak lagi mewarisi budaya generasi sebelumnya. Skenario siapa? Nanti akan saya jelaskan.

Skenario itu kini melahirkan Generation Gap Syndrom (GGS). Sebuah penyakit sosial baru yang belum banyak disadari dan didiskusikan. Penyakit sosial ini sengaja diciptakan, bukan sesuatu yang alamiah. Generasi tua dengan generasi muda dibuat semakin tidak nyambung dalam berkomunikasi.

Konteks pengembangan GGS adalah pertarungan budaya lokal dengan budaya global. Generasi tua makin berbau budaya lokal, sementara generasi milenial sudah mengadopsi budaya global. Perbedaan ini yang terus dipertajam.

Generasi milenial diharapkan tidak lagi mengadopsi budaya lokal, karena menjadi penghalang intervensi budaya global. Di Sumbar, misalnya, akan terasa ketika kaum milenial tidak lagi sudi menerima sistem penguasaan tanah yang melarang jual beli.

GGS tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Termasuk AS dan Eropa. Dengan semakin meluasnya GGS akan datang saatnya budaya lokal benar-benar musnah. Generasi millenial menjadi tulang punggung budaya global.

Sayangnya, dalam budaya global itu kaum millenial hanya diposisikan sebagai konsumen yang siap memakan apa saja yang ditawarkan oleh penguasa budaya global. Penguasa budaya global inilah yang berada di balik skenario GGS.

Budaya global itu bukan budaya Yahudi, Cina atau Jepang. Tapi sebuah budaya ciptaan dari sekelompok orang yang mempunyai akses ke media dan teknologi informasi secara global. Proyek mereka sudah dimulai sejak beberapa tahun lampau dengan nama Post-modernisme (budaya Posmo). Budaya posmo berhasil mendongkel budaya Barat yang modern dan menggiring anak-anak muda ke titik yang mereka buat.

Ternyata budaya posmo tidak cuma melanda masyarakat Barat, tapi juga masyarakat di negara-negara non-Barat, yang mula-mula berusaha mendangkalkan makna budaya mereka melalui berbagai proyek komodifikasi.

Selanjutnya dibangun politik identitas dengan mengedepankan konsep generasi. Generasi milenial digaungkan, ditempelkan ke jidad anak-anak muda melalui berbagai media, dan didorong untuk memusuhi generasi sebelumnya.

Yang membuat sedih, banyak anak muda yang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya diperangkap ke dalam skema proyek. Mereka tidak akan jadi siapa-siapa selain sebagai konsumen belaka.

Penguasa budaya global sudah siap dengan berbagai produk yang akan dijual ke seluruh dunia, untuk mempertebal kucek mereka, dan generasi milenial siap pula jadi konsumen yang antusias. [*]

Install aplikasi Valora News app di Google Play

lainnya