• Kamis, 06-02-2020 • 17:56 WIB

Kita yang Tidak Adil

Ajo Wayoik!*

*Penggiat Seni

<p>Kita yang Tidak Adil<p>

Kita selalu memakai perbandingan yang "indak masuak" ketika bicara atau menuntut keadilan hukum. "Koruptor senyam senyum saat ditangkap, maling ayam babak belur. Hukum tajamnya ke bawah saja!"

Begitu umpat sebagian kita, sebagai respon setelah melihat foto tahanan KPK atau maling ayam pasca amuk masa.

Kenapa ini menurut saya indak masuak? Karena kedua kejahatan ini ditangani oleh pihak yang berbeda. Satu oleh negara dan yang satunya lagi oleh massa. Pertanyaannya, pernahkah massa menangkap dan membogem pelaku korupsi sebrutal ketika mendapati maling ayam?


Sumpah. Saya tidak pernah dengar. Sudah 37 tahun umur saya, yang saya tahu, masyarakat hanya menangkap maling kelas teri, bandit jalanan, coro-coro!

Massa tak pernah menangkap koruptor, bandar narkoba kelas kakap atau mucikari prostitusi langganan pejabat. Ndak pernah!

Lalu harus bagaimana? Ya beringaslah secara nyata kalau mau beringas juga!

Misalnya, kita tahu atau curiga ada pejabat disekitar kita yang korupsi, tapi kita takut melaporkannya. Sekali lagi, jangankan menangkapnya ramai-ramai, melaporkannyapun enggan.

Sebabnya macam-macam. Bisa karena si koruptor sangat berpengaruh, karena dia "urang bagak," karena dia pintar dan mengerti hukum atau tak sedikit karena yang bersangkutan punya wajah ganda; koruptor tapi suka bantu orang.

Penegak hukum itu butuh laporan!

Hukum butuh saksi!

Pelaku korupsi seringkali adalah orang yang lebih pintar, kaya dan lebih berpengaruh dari orang kebanyakan. Hal ini berbeda dengan maling ayam! Tapi kalau kita bersatu, apalah daya koruptor hebat itu.

Lalu, kenapa kita harus menuntut keadilan hukum jika kita tak pernah membantu aparat lewat pelaporan.

Kenapa masih mengumpat, ketika kita justru takut (atau jangan-jangan hormat) pada maling berdasi? Lawan donk! (*)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

lainnya