• Minggu, 12-01-2020 • 20:23 WIB

Siap jadi Calon Gubernur, Tidak untuk Wakil

Bincang dengan Riza Falepi (1/2)*

*Politisi PKS

<p>Siap jadi Calon Gubernur, Tidak untuk Wakil<p>

WALI Kota Payakumbuh, Riza Falepi menegaskan, dirinya siap bertarung di pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumbar pada pemilihan serentak 2020. Magister Tekno Ekonomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, mengaku telah intens menyosialisasikan diri ketengah-tengah masyarakat.

"Saya bersama Wali Kota Padang, Ustad Mahyeldi dan Anggota DPR RI, Pak Tifatul Sembiring, telah dipersilahkan PKS untuk menyosialisasikan diri ketengah masyarakat Sumbar. Kami bertiga, diproyeksikan sebagai calon gubernur Sumbar 2020 dari PKS," ungkap anak nagari Koto nan Ampek Kota Payakumbuh itu, di Padang, Ahad (12/1/2020) pagi.

Pada bincang-bincang selama 1,5 jam itu, Riza mengurai banyak hal. Beberapa di antaranya, dinyatakan pria dengan gelar adat, Datuk Rajo Ka Ampek Suku, off the record.


Di antara yang diurai Riza dalam rangka menyongsong pemilihan gubernur yang digelar berbarengan dengan pemilihan 11 bupati dan 2 wali kota di Sumbar itu yakni latar belakang akhirnya membulatkan tekad untuk maju, modal kampanye, program kerja jika terpilih, rilis hasil survei jelang pemilihan dan topik khas Pilkada lainnya.

Berikut petikan diskusi yang juga dihadiri pemimpin redaksi http://valora.co.id, Al Imran bersama beberapa pimpinan media cetak dan siber di Padang.

Bagaimana ceritanya sehingga dijadikan bakal calon gubernur Sumbar dari PKS?

Selesai tahapan pemilu internal, PKS meminta saya untuk menyosialisasikan diri ke masyarakat sebagai calon gubernur Sumbar. Permintaan itu disampaikan dengan setengah memaksa, karena diinternal partai, saya telah berulang kali menyatakan, akan kembali ke dunia bisnis yang telah lama saya tinggalkan, setelah mengakhiri tugas sebagai wali Kota Payakumbuh dua periode, 2012-2022.

Selain struktur partai di tingkat provinsi, sejumlah elit PKS yang telah saya anggap sebagai guru politik, juga 'memaksa' saya untuk ikut kontestasi ini.

Sebenarnya, cara ini merupakan salah satu tahapan PKS dalam menetapkan figur yang akan diusung pada pemilihan gubernur atau bupati/wali kota pada setiap momentum pemilihan kepala daerah. Ini tahapan biasa di internal PKS. Tak ada yang istimewa.

Karena diperintah dari berbagai arah, setelah berdiskusi dengan orang-orang dekat, saya akhirnya memantapkan diri serta membulatkan tekad untuk maju, ikut bertarung. Maju sebagai calon gubernur. Tidak untuk posisi yang lain.

Jika PKS akhirnya menetapkan sebagai calon wakil gubernur?

Saya tak bersedia. Saya hanya ingin jadi gubernur.

Alasannya?

Saya ini wali kota dua periode. Visi dan misi serta program saya sebagai wali kota, juga dapat diukur pencapaiannya.

Saya juga memiliki modal finansial memadai untuk maju. Saya juga punya sejumlah sahabat yang siap membantu baik secara moril maupun materil. (Riza kemudian menyatakan, pemberitaan sejumlah media yang menyebut dirinya telah menyiapkan uang dengan nominal puluhan miliaran rupiah menghadapi pemilihan gubernur, sedikit miss-persepsi-red).

Anda terkesan memaksa sebagai calon gubernur, Kenapa?

Jujur saja, ini terkait dengan modal finansial. Banyak figur yang namanya disebut-sebut sebagai calon gubernur menghubungi saya, tak fair dengan modal finansial ini. (Riza kemudian menyebut nama-nama yang dinilainya tak fair terkait modal finansial itu secaraoff the record). Karenanya, saya memilih jadi gubernur saja.

Sebagai wali kota dua periode, saya bisa dikatakan tak punya uang sama sekali. Aset saya malah berkurang. Saat jadi anggota DPD RI periode 2009-214, saya masih memiliki 3 unit mobil. Sekarang, semuanya terjual. Saya tak lagi punya kendaraan pribadi.

Namun, sebagai pemilik saham di beberapa perusahaan multinasional, saya memiliki dana pribadi yang mencukupi untuk membiayai kontestasi ini.

Kapan PKS menetapkan satu nama sebagai calon gubernur?

PKS itu baru menetapkan satu nama yang akan diusung sebagai calon gubernur Sumbar, pada Februari atau awal Maret 2020. Artinya, masih ada waktu 6 atau 7 bulan sebelum pemilihan, untuk menyosialisasikan diri ke masyarakat. Rentang waktu ini memadai, karena saya mengetahui cara untuk memenangi pemilihan gubernur Sumbar 2020.

Pak Irwan (Prayitno-red) pada Pilkada 2010 lalu, hanya punya waktu kurang lebih 2,5 bulan saja untuk bersosialisasi dan akhirnya menang. Padahal, pencalonan Pak Irwan waktu itu, bisa dikatakan faktor kecelakaan. Awalnya, PKS menyiapkan nama Trinda Farhan Satria (Ketua DPW PKS Sumbar saat itu-red) sebagai calon wakil gubernur.

Alasan lain hanya mau dicalonkan sebagai gubernur saja?

Anda bayangkan, saya ini menghabiskan usia produktif untuk jadi kepala daerah. Sebagai wali kota Payakumbuh. Saya melepaskan bisnis yang baru dirintis. (Riza Falepi lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, 17 Juni 1970, 49 tahun). Saya mengorbankan banyak hal untuk tugas partai ini.

Sebelum menjabat wali kota Payakumbuh, Riza merupakan anggota DPD RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatra Barat untuk periode tahun 2009-2014. Dia meraih perolehan suara sebanyak 152.475 suara, sehingga dia menjadi pengumpul suara nomor 3 setelah Irman Gusman (293.070 suara) dan Emma Yohanna (203.587 suara) untuk Dapil Sumatra Barat (Sumbar).

Riwayat Pendidikan Riza Falepi:

  • SD Negeri 5 Payakumbuh
  • SMP Negeri 1 Payakumbuh
  • SMA Negeri 3 Payakumbuh
  • SMA Negeri 13 Jakarta
  • S1 Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung
  • S2 Tekno Ekonomi Institut Teknologi Bandung. (bersambung)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Wawancara lainnya