Fluktuasi Harga Emas akibat Pandemi Corona jadi Faktor Pemicu Inflasi Juli 2020

AI Mangindo Kayo | Selasa, 04-08-2020 | 20:51 WIB | 410 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Fluktuasi Harga Emas akibat Pandemi Corona jadi Faktor Pemicu Inflasi Juli 2020<p>Info grafis.

VALORAnews - Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) umum gabungan dua kota di wilayah Sumatera Barat pada Juli 2020 tercatat mengalami deflasi sebesar -0,14% (mtm) atau meningkat dibandingkan Juni 2020 yang mengalami deflasi sebesar -0,16% (mtm).

"Laju inflasi Sumatera Barat pada Juli 2020 tersebut tercatat berada di bawah realisasi nasional sebesar -0,10% (mtm) dan sama dengan realisasi Kawasan Sumatera sebesar -0,14% (mtm)," ungkap Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Wahyu Purnama A dalam pernyataan tertulis, Selasa (4/8/2020).

Secara spasial, pada Juli 2020 Kota Padang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,11% (mtm) meningkat dibandingkan realisasi Juni 2020 yang mengalami deflasi sebesar -0,16% (mtm). Sementara, secara bulanan, Kota Bukittinggi mengalami deflasi sebesar -0,39% (mtm) lebih dalam dibandingkan realisasi pada Juni 2020 yang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,13% (mtm).


Realisasi inflasi Kota Padang dan Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai kota dengan nilai deflasi tertinggi ke-16 dan ke-3 dari 19 kota/ kabupaten di Kawasan Sumatera yang mengalami deflasi. Selanjutnya secara nasional, Kota Padang dan Kota Bukittinggi berada pada peringkat ke-42 dan ke-12 dari 61 kota/ kabupaten IHK yang mengalami deflasi.

Secara tahunan pergerakan harga pada Juli 2020 di Sumatera Barat menunjukkan deflasi sebesar -0,46% (yoy) lebih dalam dibandingkan realisasi inflasi Juni 2020 yang sebesar 0,18% (yoy). Nilai inflasi tahunan Sumatera Barat ini tercatat lebih rendah dari realisasi inflasi nasional sebesar 1,54% (yoy) dan dibandingkan realisasi Kawasan Sumatera sebesar 0,15% (yoy).

Secara tahun berjalan 2020 (s.d Juli 2020) Sumatera Barat tercatat mengalami inflasi sebesar 0,30% (ytd) atau menurun dibandingkan Juni 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,44% (ytd). Inflasi tahun berjalan ini berada di bawah realisasi inflasi nasional sebesar 0,98% (ytd) dan realisasi Kawasan Sumatera sebesar 0,50% (ytd).

Deflasi Provinsi Sumatera Barat pada Juli 2020 terutama berasal dari deflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi dengan andil -0,14% (mtm) didorong oleh penurunan harga komoditas bawang merah, daging ayam ras dan ayam hidup dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,27% (mtm); -0,12% (mtm); dan -0,02% (mtm).

Penurunan harga komoditas bawang merah disebabkan oleh tercukupinya pasokan seiring masa panen yang masih berlangsung di Sumatera Barat. Daging ayam ras dan ayam hidup mengalami penurunan harga didorong oleh melimpahnya pasokan dengan adanya panen produksi dari peternak.

Sementara itu, beberapa komoditas penyumbang inflasi di kelompok makanan, minuman dan tembakau antara lain cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,08% (mtm) serta ikan cakalang/ikan sisik, telur ayam ras, dan ikan tongkol/ikan ambu-ambu yang menyumbang inflasi dengan andil masing-masing sebesar 0,04% (mtm). Peningkatan harga komoditas pangan tersebut terutama didorong oleh peningkatan permintaan dan kurangnya pasokan di masyarakat.

Kelompok lain yang turut menyumbang deflasi pada Juli 2020 yaitu kelompok transportasi serta kelompok pendidikan dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,11% (mtm) dan -0,04% (mtm). Deflasi pada kelompok transportasi terutama disumbang oleh penurunan tarif angkutan udara dengan andil deflasi sebesar -0,12% (mtm) didorong oleh penyesuaian tarif batas atas angkutan udara.

Sementara itu deflasi pada kelompok pendidikan didorong oleh penurunan tarif bimbingan belajar dengan andil sebesar -0,04% (mtm) yang disebabkan oleh pemberian diskon dengan meningkatnya penerapan pembelajaran secara daring.

Di sisi lain, tekanan inflasi pada Juli 2020 berasal dari inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil inflasi sebesar 0,11% (mtm) disebabkan oleh peningkatan harga emas perhiasan dengan andil inflasi sebesar 0,10% (mtm) seiring dengan fluktuasi harga emas dunia akibat ketidakpastian global akibat Pandemi Covid-19.

Dalam rangka pengendalian inflasi di daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat telah melaksanakan berbagai upaya pengendalian inflasi. Berbagai upaya pengendalian inflasi juga telah dilakukan TPID Provinsi Sumatera Barat.

"Kedepan, diharapkan sinergi dan koordinasi TPID Provinsi, TPID Kabupaten/Kota di Sumatera Barat dengan Pemerintah Pusat dapat terus ditingkatkan dalam rangka pengendalian inflasi daerah," harapnya. (vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Ranah lainnya
Berita Provinsi Sumatera Barat lainnya