Jawab Tantangan Ekononomi di Masa Pandemi Covid19 dengan Inovasi

AI Mangindo Kayo | Jumat, 06-11-2020 | 19:24 WIB | 155 klik | Nasional
<p>Jawab Tantangan Ekononomi di Masa Pandemi Covid19 dengan Inovasi<p>Dosen & Fasilitator Strategi dan Manajemen Inovasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Dr Avanti Fontana. (istimewa)

VALORAnews - Dalam benak masyarakat awam, inovasi seringkali dikatikan dengan hal-hal sulit dan penuh risiko. Padahal, inovasi justru diperlukan dalam menghadapi situasi yang terus berubah akibat pandemi Covid19 ini.

"Hal-hal yang perlu direspon saat pandemi Covid19 ini adalah inovasi yang dapat membantu Indonesia keluar dari kondisi ketidakpastian. Untuk hal ini perlu sensitivitas yang tinggi dalam menemukan peluang yang tepat," ungkap Dosen & Fasilitator Strategi dan Manajemen Inovasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Dr Avanti Fontana, di Jakarta, Jumat (6/11/2020).

Pernyataan itu disampaikannya saat jadi narasumber pada Dialog Produktif bertema "Berinovasi dan Optimis Meningkatkan Usaha di Masa Pandemi," yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN). Dialog ini digelar secara virtual.


Dikatakan, pada kondisi penuh ketidakpastian, inovator atau wirausahawan harus terpanggil untuk ikut serta dalam mengatasi perubahan situasi yang tidak hanya cepat namun juga kompleks. Inovasi inilah salah satu instrumen yang sangat diperlukan guna merespon perubahan tersebut.

Pasalnya, inovasi tidak hanya akan berdampak merubah kondisi lebih baik dari sebelumnya, tapi juga diharapkan mampu membawa perbedaan yang signifikan dalam nilai manfaat baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

"Produk-produk solutif yang dihasilkan wirausahawan, bukanlah sesuatu yang dihasilkan tiba-tiba tapi dilakukan secara sistematis dan memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah. Kalau bicara pandemi, tentu tujuannya bagaimana mengatasi pandemi dan tujuan yang lebih besar adalah menggapai kesejahteraan baik dalam jangka dekat maupun jangka panjang," ungkapnya.

Hal serupa diakui pula narasumber lainnya, Doddy Lukito, Chief (In Hospital) Business Officer & Co Founder HaloDoc. "Saat kita menemukan solusi pertama kali, mungkin itu tidak langsung tepat guna. Kita pantau terus hasilnya seperti apa, sambil kita terus beradaptasi untuk mencapai hasil yang kita harapkan. Dari situ kita terus berevolusi," terangnya.

Dari data internal HaloDoc, ungkap dia, saat pandemi Covid19 (Maret-Mei) transaksi tele konsultasi dengan dokter melalui platform HaloDoc meningkat 6x lipat. Lalu terjadi juga peningkatan sebesar 300% terhadap transaksi pembelian obat melalui aplikasi.

Kemudian, jumlah pengguna aktif HaloDoc sempat mencapai 20 juta per bulan. Ini semua dikarenakan adanya layanan tes Covid19, memfalisitasi tes Covid19 secara drive thru.

Butuh Peran Pemerintah

Dikatakan Avianti, pemerintah turut berperan dalam menciptakan kondisi ekosistem yang kondusif agar inovasi tersebut berjalan dengan baik. Data Index Inovasi Global yang diterbitkan INSEAD bekerjasama dengan WIPO, pada 2017-2020, tingkat inovasi Indonesia cukup stabil di angka 30/100.

"Di 2020, skor Indonesia 26/100. Di sini menunjukkan bahwa betapa besarnya peluang inovasi bisa tumbuh di Indonesia. Itu butuh regulasi yang kondusif," terang Avianti.

Peluang di lapangan ini, menurut dia, perlu dilihat secara holistik. Inovasi biasanya tumbuh dalam kondisi lingkungan yang tidak nyaman. Dengan begitu para inovator ini merasa perlu mengintervensi kondisi tersebut, untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Kegagalan justru terjadi bagi mereka yang tidak beradaptasi pada lingkungan.

"Memang, kita harus tahu apa sasaran atau pasar yang akan menerima solusi kita. Teknologi hanyalah salah satu faktor. Solusi tidak harus bersifat teknologi. Intinya bagaimana solusi tersebut dapat menjawab kebutuhan pengguna," terang Doddy Lukito.

Adapun perihal dampaknya, inovasi yang berhasil tidak hanya berdampak ekonomi namun juga berdampak sosial yang luas. Seperti halnya yang dilakukan pemerintah saat ini adalah bentuk inovasi di bidang publik, untuk membangkitkan ekonomi nasional.

"Para inovator harus kritis dan peduli serta mau melakukan analisis kondisi. Terapkan empati kepedulian sosial dari hulu sampai hilir. Lalu turunkan dalam analisis kekuatan dan kelemahannya kemudian peluang dan tantangannya."

"Dari situ kemudian bisa digali apa masalah yang bisa disolusikan dan ditawarkan ke masyarakat. Negara juga memiliki peran dalam menjaga ekosistem ini tetap kondusif," tutup Dr Avianti. (kyo/rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Bisnis lainnya
Berita Nasional lainnya