IPSOS Nilai Indonesia Negara Paling Optimistis Tanggulangi Covid19

AI Mangindo Kayo | Jumat, 06-11-2020 | 21:35 WIB | 174 klik | Nasional
<p>IPSOS Nilai Indonesia Negara Paling Optimistis Tanggulangi Covid19<p>Juru Bicara Covid19, dr Reisa Broto Asmoro, dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Jumat (6/11/2020). (istimewa)

VALORAnews - Jumlah kasus aktif per 6 November 2020 berada di bawah angka 60 ribu kasus atau 12,7 persen dari total kasus. Data kasus sembuh per hari ini berjumlah 360.705 atau sekitar 84 persen dari total akumulatif.

"Angka kasus aktif ini, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata dunia yang berada di angka di sekitar 25 persen dari total kasus. Sementara, angka kasus sembuh juga lebih tinggi dari kasus sembuh dunia sebesar 71,3 persen," jelas Juru Bicara Covid19, dr Reisa Broto Asmoro, dalam pernyataan tertulis Komite Penanganan Covid19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) yang diterima, Jumat (6/11/2020).

Dalam sepekan belakangan ini, ungkap dia, lembaga penelitian bertaraf dunia, IPSOS, menyatakan bahwa orang Indonesia adalah warga yang paling optimistis di ASEAN dalam hal menanggulangi pandemi. Optimisme ini berdasarkan fakta bahwa upaya 3T (Tracing, Testing dan Treatment) pemerintah terutama di bagian treatment, terus membaik.


Terkait 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan), Reisa mengungkapkan, hasil pemantauan Satgas Covid19 menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia tetap memakai masker dan menjaga jarak, pada saat liburan panjang pada akhir pekan kemarin.

Sementara, menurut hasil riset UNICEF dan Nielsen menunjukan, cuci tangan paling sering dipraktikkan masyarakat Indonesia. "Kadangkala 3M masih dipraktikan secara terpisah. Kadang rajin cuci tangan tapi lupa pakai masker dan lengah menjaga jarak," ungkapnya.

"Yang bagus sebenarnya semuanya harus dilakukan bersamaan dalam satu paket, satu kesatuan. Karena kalau dilakukan bersama, maka risiko Covid19 langung turun drastis. Perilaku 3M bisa menurunkan penularan sampai 0 persen," ujarnya.

Kemudian hal lain yang meningkatkan optimisme adalah, sesuai dengan penelitian IPSOS bahwa adanya semangat tinggi dan upaya mencari dan menyediakan vaksin. "Ada vaksin yang dikembangkan oleh Indonesia sendiri. Ada yang bekerja sama dengan negara lain dalam kerangka kerjasama global dan multi lateral," jelasnya.

Ahli Virologi Universitas Udayana, Prof Gusti Ngurah Mahardika, dalam kesempatan berbeda menegaskan, vaksin yang akan digunakan adalah vaksin yang pasti aman, dan tentunya punya khasiat yang tinggi. Faktor keamanan dan hasil-hasil uji klinis fase akhir, tentunya jadi bahan pertimbangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memberikan izin nantinya.

"Dalam dialog saya dengan Prof Mahardika Senin kemarin, beliau juga mengingatkan bahwa kita semua ini punya andil dan berjasa dalam menyukseskan vaksinasi nanti. Maka mari kita doakan bersama uji klinis dapat berlangusng sukses dan vaksin yang manjur akan hadir. Dukung penuh proses vaksinasi di seluruh Indonesia," tambah dr Reisa.

Kabar baik ini bukan hasil kerja satu atau dua orang saja, tapi juga merupakan kerja semua pihak sebagai satu kesatuan bangsa Indonesia. Puluhan ribu dokter dan tenaga medis lainnya berjuang bersama para relawan, personil TNI, Polri, dan aparat Pemda sampai ke tingka RT/RW. Mereka telah aktif meningkatkan kinerja pelacakan, pemeriksaaan, dan pengobatan.

Tentunya, semua komponen masyarakat yang telah disiplin melakukan upaya pencegahan dengan cara memakai masker, menjaga jarak aman, dan mencuci tangan (3M). Seperti yang telah kita yakini kalau bersama sama Indonesia pasti bisa. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Rantau lainnya
Berita Nasional lainnya