Mahyeldi Bicara Melahirkan Pemimpin bersama Jaringan Alumni Unand BA-Satu

AI Mangindo Kayo | Sabtu, 21-11-2020 | 08:48 WIB | 84 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Mahyeldi Bicara Melahirkan Pemimpin bersama Jaringan Alumni Unand BA-Satu<p>Sejumlah alumni Unand lintas angkatan dan fakultas yang terhimpun dalam Jaringan Alumni Unand BA-Satu (Jalinan BA-Satu) berdialog dengan Calon Gubernur Sumbar, Mahyeldi di Padang, Jumat (20/11/2020) sore. (mangindo kayo/valoranews)

VALORAnews - Pemimpin lahir dengan sejumlah rekayasa sosial. Sangat jarang seorang pemimpin lahir secara alamiah. Karenanya, diperlukan kebersamaan untuk melahirkan kepemimpinan baik skala lokal maupun nasional.

Demikian ditegaskan calon gubernur Sumbar, Mahyeldi saat beraudiensi dengan penggiat di Jaringan Alumni Unand BA-Satu (Jalinan BA-Satu) di Padang, Jumat (20/11/2020) sore. Sejumlah alumni lintas fakultas hadir kesempatan.

"Unand itu kampus tertua di luar Jawa. Kita tak boleh kalah dari Universitas Hasanudin yang alumninya sudah mencapai posisi wakil presiden. Unand baru sampai level menteri," ungkap Mahyeldi.


Wali Kota non aktif Padang itu mengatakan, sebagai Alumni Unand, dirinya telah meminta alumni mempersiapkan diri untuk mewujudkan motto dari Unand selama ini. Yakni mewujudkan "Untuk Kedjajaan Bangsa."

"Siapa orang-orang di tingkat nasional dan lokal yang telah kita antarkan selama ini. Unand memang univeristas tertua. Tetapi kalah dengan Universitas Hasanuddin yang sudah mengantarkan alumninya Jusuf Kalla, jadi Wakil Presiden RI," ungkap Mahyeldi.

Karena itu, untuk mewujudkan Alumni Unand "Untuk Kedjajaan Bangsa" dengan menghadirkan tokoh yang bisa tampil di tingkat nasional, tidak bisa dengan langkah normal saja. Kuncinya, menurut Mahyeldi semua alumni harus solid.

"Perbedaan persepsi yang terjadi di kalangan alumni terhadap dukungan dirinya sebagai Calon Gubernur Sumbar adalah hal yang biasa. Tidak usah terlalu dipercaya lagi kondisi pro kontra ini. Sekarang kita fokus bekerja saja lagi. Saya yakin alumni punya jaringan di seluruh Indonesia. Sinergi mesti dibangun ke depan," ajaknya

Gubernur Sekaligus Calon Ketum IKA Unand

Meski kehadiran baliho dukungan Alumni Universitas Andalas (Unand) terhadap Calon Gubernur Sumbar, Mahyeldi menuai polemik di kalangan alumni universitas tertua di Pulau Sumatera itu. Namun, sejumlah Alumni Unand lintas angkatan tetap bersikukuh menyatakan dukungannya terhadap Mahyeldi.

Alumni Fakultas Ekonomi tahun 1978, Khaidir menegaskan, sudah saatnya kepemimpinan Gubernur Sumbar diisi Alumni Unand. Pasalnya, sudah 10 tahun Gubernur Sumbar dikuasai alumni lain. "Sudah saatnya Alumni Unand jadi pemimpin dan tuan rumah di rumahnya sendiri," tegasnya.

Alumni Fakultas Pertanian Unand Angkatan 1978, Fikri Amir menegaskan, almamater Unand adalah harga mati. "Unand adalah kebanggaan kita. Kita tidak malu jadi Alumni Unand saat di Jawa atau di luar daerah Sumbar," tegasnya.

Fikri menegaskan, Unand yang punya Sumbar, otomatis gubernurnya harus dari Unand. Karena itu, satu suara dari Alumni Unand sangat dibutuhkan jika ingin memenangkan Mahyeldi, Alumni Fakultas Pertanian Unand jadi Gubernur Sumbar.

"Di mana pun kita berada sebarluaskan informasi ini. Di mana kita berada bagikan informasi tentang calon gubernur kita dari Unand ini," ajaknya.

Alumni Fakultas Ekonomi Unand Angkatan 1975, Yonisvar menegaskan, saat ini tidak hanya mendukung Mahyeldi menjadi Gubernur Sumbar dari Unand saja yang mengemuka. Tetapi juga mendukung Mahyeldi jadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unand.

Selama ini, Gubernur Sumbar yang juga menduduki Ketua IKA Unand baru dua orang. Yakni, Zainal Bakar dan Gamawan Fauzi. Karena itu, saat ini perlu ditentukan tujuan dukungan ini, supaya jelas koridornya. Yakni mendukung Mahyeldi jadi Gubernur Sumbar dan Ketua IKA Unand.

"Kita ingin jadikan Mahyeldi sebagai gubernur sekaligus Ketua IKA Unand. Kalau cerita Alumni Unand tidak ada masalah secara organisasi dan kelompok," ungkapnya.

Permasalahan yang timbul dari dukungan Alumni Unand terhadap Calon Gubernur Sumbar, Mahyeldi saat ini, adalah secara organisasi, personal dan kelompok dalam bingkai Alumni Unand. Kondisi saat ini sama persis ketika Gamawan Fauzi diusung jadi Calon Gubernur Sumbar dulu. Di mana di kalangan Alumni Unand juga ada pro dan kontra.

Yonisvar mengingatkan, alumni Unand harus belajar dari Institute Tekhnologi Bandung (ITB). Di mana banyak alumni ITB yang memegang posisi jabatan strategis di partai. Seperti Hatta Radjasa di Partai Amanat Nasional (PAN), Aburizal Bakri di Partai Golkar, Pramono Anung di PDI Perjuangan. Kondisi ini justru terganggu itu Ikatan Alumni (IA ITB).

"Yang terpilih diprotes oleh kelompok yang lain," ungkapnya.

Jalan keluarnya, menurut Yonismar, organisasi alumni harus independen. Tidak boleh dukung mendukung. Jangan sampai terjadi seperti IA ITB.

"Alumni tetap bersatu. Kita sukseskan Buya Mahyeldi, tapi secara personal dan kelompok, tidak memakai nama IKA Unand," tegasnya.

Yonisvar juga menilai Alumni Unand tidak perlu persoalkan pro dan kontra dukungan alumni ini. "Kita sukseskan saja Buya Mahyeldi ini hanya dengan waktu sisa tiga minggu ini. Secara personal dan kelompok kita maju terus."

"Buya harus jadi Gubernur Sumbar dan Ketua IKA Unand. Kita turun ke daerah, siapa alumni di daerah kitarangkul. Kita yang hadir di sini punya tanggungjawab untuk menyukseskan. Tidak usah berdebat tentang IKA Unand. Kita dalam bingkai Alumni Unand. Kita tidak bisa berdebat soal organisasi Alumni Unand," tegasnya. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Ranah lainnya
Berita Provinsi Sumatera Barat lainnya