Politisi PDIP Nilai Program Gadget Belajar Giring Tak Layak Disebut Inovasi

AI Mangindo Kayo | Selasa, 01-12-2020 | 16:08 WIB | 229 klik | Nasional
<p>Politisi PDIP Nilai Program Gadget Belajar Giring Tak Layak Disebut Inovasi<p>Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat, Alex Indra Lukman. (istimewa)

VALORAnews - Seorang figur publik menjanjikan akan menyediakan gawai untuk satu siswa jika jadi pemimpin bangsa, terkesan konyol sekaligus menggelikan. Terlebih, pengadaan gawai itu disebut sebuah inovasi pula.

"Tak layak disebut sebuah inovasi jika tawaran idenya kental dengan nuansa pengadaan barang. Jika niatnya mau menaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), maka hal itu butuh gagasan dan narasi yang bisa diuji validitasnya," ungkap Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat, Alex Indra Lukman dalam pernyataan tertulis, Selasa (1/12/2020).

Pernyataan Alex ini, mengomentari orasi politik Plt Ketua Umum DPP PSI, Giring Ganesha saat acara "Virtual Concert" dalam rangka memperingati HUT ke-6 PSI, Minggu (29/11/2020) lalu. Oleh PSI, Giring digadang-gadang sebagai calon presiden pada Pemilu 2024 mendatang.


"Program nasional ini saya namakan 'Gadget Belajar Giring.' Kenapa program ini harus dikerjakan? Di gadget nanti, semua materi pelajaran bisa dikumpulkan. Jauh lebih simpel. Walaupun jika kegiatan belajar-mengajar kembali dilakukan secara tatap muka, para siswa tidak perlu lagi berat-berat membawa buku ke sekolah," kata Giring, dikutip dari laman psi.id.

Dikatakan Alex, IPM terdiri dari empat indikator utama yaitu Usia Harapan Hidup (UHH), Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan pengeluaran per kapita yang disesuaikan pada Purchasing Power Parity (PPP).

"IPM merupakan indikator global yang tingkat keberhasilannya diukur setiap tahunnya. Salah satu lembaga yang rutin melakukan survei untuk mengukur IPM setiap negara di dunia ini adalah United Nations Development Programme (UNDP). Kalau mau melempar gagasan, lihat-lihat juga lah indikator yang digunakan untuk kesuksesannya," saran Alex.

Tantangan mencerdaskan anak bangsa di masa pandemi Covid19, ungkap Alex, juga jadi tantangan yang mesti ditaklukan dengan inovasi lebih cerdas.

"Pandemi ini telah menciptakan tantangan sekaligus peluang yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Jika tawaran memperbaiki IPM di sektor pendidikan dengan pengadaan gawai, terlalu sederhana sekali idenya," tegas Alex.

"Angka 45 juta siswa di Indonesia yang terkendala dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), akibat ketiadaan gadget atau fasilitas yang memadai, tak layak tawaran cara mengatasinya dengan pengadaan gawai. Itu solusi yang tak perlu pakai mikir," tambah Alex. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Rantau lainnya
Berita Nasional lainnya