Disdik Keluarkan SE Seragam Sekolah, Budi: Itu Disorientasi Pengelolaan Pendidikan

AI Mangindo Kayo | Kamis, 04-02-2021 | 21:07 WIB | 314 klik | Kota Padang
<p>Disdik Keluarkan SE Seragam Sekolah, Budi: Itu Disorientasi Pengelolaan Pendidikan<p>Anggota Fraksi Gerindra DPRD Padang, Budi Syahrial (kanan) saat rapat dengar pendapat bersama mitra kerja terkait di salah satu hotel di kota Padang, RAbu (3/2/2021). (istimewa)

VALORAnews - Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Padang, Budi Syahrial Dt Rajo Batuah mengingatkan Dinas Pendidikan beserta seluruh jajaran, sekolah bukanlah ajang untuk bancakan proyek. Selain itu, sekolah bukan pula untuk gaya-gayaan.

"Sekolah itu untuk mencari ilmu, dengan segala daya upaya untuk fokus mendidik dan mengembangkan sumberdaya manusia. kita INI fokus mendidik manusia sebagai subyek, bukan jadikan manusia sebagai objek," ungkap Budi di Padang, Kamis (4/2/2021).

Pernyataan Budi ini terkait beleid yang dikeluarkan Dinas Pendidikan Padang No 421/909/BP.Dikdes/3/2020.


Dalam surat edaran (SE) yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Habibul Fuadi itu, berisikan pesan pada seluruh kepala sekolah di Kota Padang terkait pemakaian seragam sekolah.

Isi pesan tertanggal 28 Januari 2021 itu, Habibul mengatur, setiap Senin dan Selasa, setiap siswa mengenakan pakaian baju putih dengan celana (rok) warna merah (SD) dan warna biru (SMP).

Setiap Rabu, mengenakan pakaian batik sekolah masing-masing. Pada Kamis, pakaian Baju Kurung Basiba (bagi siswa perempuan) dan Taluak Balango (siswa laki-laki).

Di hari Jumat, siswa mengenakan pakaian muslim sekolah masing-masing dan Sabtu mengenakan pakaian pramuka lengkap.

"Siswa seperti mau diikutkan karnaval setiap hari. Pendidik terutama jajaran Dinas Pendidikan, tak boleh disorientasi dalam mengelola dunia kependidikan," tegas anggota DPRD Dapil Padang V (Kecamatan Padang Barat, Utara dan Nanggalo).

Budi kemudian menyitir tujuan pendidikan nasional dengan mengutip Pasal 3 UU No 20 Tahun 2003 yakni, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

"Saat ini, Pandemi Covid19 telah membuat masyarakat jadi 'babak belur.' Jika orang tua siswa dibebani dengan 6 stel pakaian, itu terasa sangat berat. Jika ada anaknya dua atau tiga orang yang bersekolah, ini makin membebani lagi," tegas Budi.

Budi menilai, Dinas Pendidikan dengan alokasi anggaran sebesar 20 persen dari APBD, tampak lebih sibuk dengan kegiatan 'pencitraan.'

"Sekolah dengan sistem dua shift, masih banyak di Padang. Fasilitas di sekolah juga banyak yang masih minimalis. Kenapa Dinas Pendidikan seperti disibukan dengan aturan seragam," kata Budi dengan nada menelisik.

Perlu dicamkan, tegas Budi, jika mampu secara ekonomi, setiap orang tua pasti akan sekolahkan anaknya ke tempat terbaik, bahkan hingga keluar negeri sekalipun.

"Enam macam seragam itu memberatkan. Jangan pakai kaca mata kuda menilai kemampuan ekonomi masyarakat. Masyarakat tengah kesusahan saat ini," tegasnya. "Saya, dulu sekolah hanya punya 3 seragam. Baju putih merah/biru, baju pramuka dan olahraga. Alhamdulillah, jadi orang juga," tambahnya. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Pendidikan lainnya
Berita Kota Padang lainnya