Lima Rombel Kelas X SMAN 3 Bukittinggi Belajar di Bawah Ancaman Maut

AI Mangindo Kayo | Kamis, 24-06-2021 | 19:45 WIB | 8353 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Lima Rombel Kelas X SMAN 3 Bukittinggi Belajar di Bawah Ancaman Maut<p>Ilustrasi.

VALORAnews - Sebanyak lima rombongan belajar (Rombel) siswa kelas X SMA Negeri 3 Kota Bukittinggi, ikut proses belajar mengajar di bawah ancaman maut, menyusul lokal merupakan aula yang disekat jadi ruangan belajar tersebut tidak layak secara kontruksi untuk ditempati.

"Lokal merupakan aula yang disekat jadi ruangan belajar tersebut sudah banyak yang kropos, lantaran mungkin sudah dimakan usia. Kalau tidak salah, bangunan tersebut berdiri sekitar tahun 80-an," kata Kepala Sekolah, Amri Jaya di Bukittinggi, Rabu (23/6/2021).

Menurut dia, melihat kondisi kontruksi bangunan kurang layak tersebut, jika ada gempa sekali goncang bisa saja bangunan akan runtuh, dan menimpa siswa saat proses belajar mengajar berlangsung.


Kata dia, sewaktu sekolah tingkat SMA di bawah naungan pemerintah kota Bukittinggi, jika ada upaya untuk meningkatkan fasilitas sekolah langsung dialokasikan di APBD kota Bukittinggi.

"Sewaktu masih di bawah naungan pemerintah kota Bukittinggi, dilakukan pembangunan sejumlah ruangan belajar baru, termasuk juga pembangunan mushalla," paparnya.

"Rencananya, pembangunan lokal baru akan dilanjutkan tahun berikutnya, tapi tidak bisa dilakukan karena bukan lagi kewenangan pemerintah kota Bukittinggi," paparnya.

Ia mengatakan, sejak pengelolaan SMA di bawah naungan pemerintah provinsi Sumatera Barat, barang kali lantaran karena situasi keuangan, sehingga APBD bidang pendidikan belum bisa meningkatkan fasilitas sekolah.

"Sekolah telah berupaya membenahi sarana dan prasarana fasilitas sekolah, mungkin karena situasi ke uangan, sehingga belum bisa dibantu di APBD bidang pendidikan Provinsi Sumatera Barat," ungkapnya.

Ia menyampaikan, telah juga menjajaki ke Kementerian melalui data dapodik, dan bahkan langsung ke Kemendikbud, termasuk Kementerian PUPR, ada harapan dibantu di tahun 2019.

"Pas waktu Covid19 di 2020, sehingga dana fisik yang sudah dijanjikan dialihkan untuk bantuan penanganan pandemi. Itu lah situasi kita, sehingga fasilitas sarana dan prasarana ruang kelas yang layak sesuai standar minimal itu masih belum di SMA 3," ungkapnya.

Disampaikan, mulai pertama pengelolaan SMA ke pemerintah provinsi, sudah disampaikan kondisi fisik SMA 3 ke dinas pendidikan Provinsi Sumatera Barat.

Ia menyebutkan, saat ini, ruangan belajar di SMA 3 sesuai standar berjumlah 25 ruangan, sehingga terjadi kekurangan sebanyak lima ruang belajar (lokal-red).

"Kekurangan lima lokal tersebut, siswa belajar di ruangan aula yang disekat, yaitu bagi siswa kelas X. Aula tersebut dibangun tahun 80-an. Jika dilihat tiang-tiangnya sudah putus. Bila terjadi gempa, sekali digoncang akan runtuh, lantaran secara konstruksinya tidak layak lagi," paparnya. (ham)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Berita Metro lainnya
Berita Provinsi Sumatera Barat lainnya