• Selasa, 29-12-2020 • 23:24 WIB

Rahasia Pasien atau Keselamatan Orang Banyak

dr Mela Aryati*

*Mahasiswa S2 Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

<p>Rahasia Pasien atau Keselamatan Orang Banyak<p>

Pandemi Covid19 sudah berjalan 10 bulan. Cukup banyak pelajaran yang bisa diambil bersama, salah satunya adalah belajar menjadi pasien yang juga memikirkan kesehatan orang lain. Fenomena umum ketika kita sakit maka orientasi kita adalah memikirkan kesehatan kita pribadi, bagaimana bisa segera sembuh dan survive dari penyakit.

Sedikit berbeda dengan Covid19, saat sakit kita juga masih harus memikirkan orang lain, bagaimana kita rela membuka status kesehatan diri kita sendiri untuk mengamankan orang lain. Covid 19 sangat menular sehingga membuka status dapat menyelamatkan banyak orang. Alangkah baik dan bijaknya ketika pasien sendiri secara sadar mau membuka statusnya karena covid ini bukanlah aib.

Hak pasien untuk dijaga rahasia medisnya juga harus diimbangi dengan kewajiban yang semuanya juga memiliki batasan secara undang- undang serta dibatasi pula akan hak orang lain untuk terlindungi dari penyakit menular.


Permenkes No 290 Tahun 2008, diamanatkan bahwa medical secrecy tidak boleh dibuka kecuali: atas permintaan pasien yang bersangkutan, atas perintah undang-undang dan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas (misalnya terkait pemberantasan penyakit menular). Nah, di poin ketiga ini kondisi kita saat ini.

Secara lebih tegas dalam Permenkes No 36 Tahun 2012 diatur tentang Rahasia Kedokteran, yang prinsipnya dalam hal tertentu rahasia dapat dibuka meskipun dengan pembatasan yang cukup ketat. Hal ini dirumuskan pada Pasal 5 dan terkait informasi kesehatan secara khusus diatur pada Pasal 6 dan Pasal 9.

Pembukaan rahasia kedokteran berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilakukan tanpa persetujuan pasien, dalam rangka kepentingan penegakan etik atau disiplin serta kepentingan umum.

Pembukaan rahasia kedokteran dalam rangka kepentingan penegakan etik atau disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan atas permintaan tertulis dari Majelis Kehormatan Etik Profesi atau Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.

Pembukaan rahasia kedokteran dalam rangka kepentingan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan tanpa membuka identitas pasien.

Pasal 168 UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan, untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan esien diperlukan informasi kesehatan. Informasi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem informasi dan melalui lintas sektor.

Pengendalian Covid19 juga demikian membutuhkan peran bersama lintas sektor dan juga keterbukaan informasi dimasyarakat. Oleh karena itu tak jarang orang- orang yang dinyatakan positif dipantau bersama oleh lintas sektor dan gugus tugas dengan tujuan meminimalisir penularan, apatah lagi orang tersebut setelah dinyatakan positif melakukan isolasi mandiri di rumah, tidak dikarantina ataupun dirawat di rumah sakit.

Kekhawatirannya adalah apakah seseorang ini benar menjalani isolasi dirumah atau masih bepergian keluar rumah yang potensial menularkan ke orang lain, tentu butuh pengawasan dan saat inilah lintas sektor terkait harus tahu.

Membuka status ketika kita dinyatakan positif dapat menyelamatkan banyak orang dan juga diri kita sendiri. Sehingga menyetujui status kita dibuka adalah hal positif yang bernilai kepahlawanan. Ketika seorang dinyatakan positif, seharusnya seseorang menghubungi kolega- koleganya yang termasuk dalam kontak erat dengan beliau untuk mau di tracking kasus kontak dan memeriksakan kesehatannya ke petugas kesehatan dan melaporkan kontak erat ke petugas kesehatan di wilayahnya.

Dengan hal ini banyak orang yang akan terdeteksi lebih dini dan dapat segera mendapatkan pelayanan medis selanjutnya jika dibutuhkan. Keterbukaan rahasia dapat menyelamatkan banyak orang.

Saat ini di Sumatera Barat, sudah 22.610 kasus positif berdasarkan laporan situs resmi website corona provinsi Sumatera Barat. Cukup beragam kasus yang kita temui di masyarakat, dan yang cukup kita sayangkan sudah sebanyak ini kasus namun masih cukup besar stigma negatif di masyarakat seolah penyakit ini adalah aib.

Hal ini tentunya menjadi penghambat orang- orang yang dinyatakan positif untuk kemudian mau mebuka statusnya karena takut akan dipersalahkan dan lain-lain konsekuensi dibelakangnya. Kesediaan mereka membuka diri memberitahukan diri mereka positif harusnya mendapatkan dukungan psikologis yang dalam perjalanannya dapat membantu menyembuhkan orang yang dinyatakan positif.

Jangan ada stigma apalagi menyalahkan. Sikap-sikap dukungan kita di lapangan membuat kita semakin terbuka dan orang dengan sadar mau membuka diri terhadap status kesehatannya dan lingkungan sekitar menjadi terhindar dari pandemi Covid19 ini.

Pada Pasal 2 UU Keterbukaan Informasi Publik disebutkan bahwa setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap pengguna informasi publik, kecuali informasi tertentu bersifat ketat dan terbatas. Informasi publik yang dikecualikan yang bersifat rahasia sesuai dengan undang-undang.

Informasi yang mengandung konsekuensi jika ditutup dan dibuka untuk masyarakat harus dipertimbangkan konsekuensinya dengan seksama untuk kepentingan yang lebih besar. Covid19 sangat mudah menular, membuka informasi berarti menjaga sekitar kita untuk tidak tertular.

Semoga Allah memudahkan dan menjaga kita selalu. (*)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

lainnya