• Sabtu, 05-09-2020 • 22:54 WIB

Indahnya Keluhuran Budi

KH Akhmad Khambali SE MM*

*Ketua Umum Gema Santri Nusa

<p>Indahnya Keluhuran Budi<p>

Buya Hamka dalam hidupnya pernah"diserang" & "didera" tokoh besar seperti Soekarno, M Yamin dan lainnya termasuk Pramoedya A.Toer

Melalui headline beberapa media cetak asuhan Pramoedya Ananta Toer, Soekarno Bersama Mohammad Yamin, melakukan pembunuhan karakter atas diri Hamka, namun tak sedikit pun sikap Hamka bergeser dalam menegakkan "amar ma'ruf nahi mungkar."

Sebab, terlalu kuatnya karakter Hamka, di tahun 1964, Soekarno tak sungkan-sungkan menjebloskan ulama besar asal Minangkabau ini ke dalam penjara tanpa melewati persidangan.


Pun 2 tahun 4 bulan Hamka dibui, Hamka justru bersyukur.

Di dalam terali besi itu ia punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 juz Tafsir Alqur'an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar. Tanpa ada sedih, mendendam juga mengutuki.

Lantas, bagaimana dengan ketiga tokoh tadi?

Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno.

Ternyata Allah masih sayang pada ketiganya, Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno.

Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di akhirat.

Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di dunia. Dan kita pun menjadi saksi mereka.

Di usia senja, Pramoedya mengakui kesalahannya di masa lalu. Ia mengirim putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf, untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri.

Apakah Hamka menolak?

Tidak..!

Justru dengan hati yang sangat lapang Hamka mengajarkan ilmu agama pada anak dan calon menantu Pramoedya tanpa sedikit pun mengungkit-ungkit kekejaman Pramoedya.

Astuti, anak perempuan Pramoedya pun menangis haru melihat kebesaran hati ulama besar ini. Hamka malah menjadi saksi atas pernikahan mereka.

Saat Mohammad Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka.

Dengan segala kerendahan hati dan penyesalannya pada ulama besar ini, Mohammad Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya.

Dalam kesempatan nafas terakhirnya, tokoh besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid yang dituntun oleh Hamka.

Begitu juga dengan Soekarno, Hamka justru berterima kasih dengan hadiah penjara yang diberikan padanya karena berhasil menulis buku yang menjadi dasar umat Islam dalam menafsirkan Al Quran.

Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan tokoh besar Indonesia, proklamator bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah.

Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua.

Tanggal 16 Juni 1970, seorang ajudan Soekarno datang ke rumah Hamka membawa secarik kertas bertuliskan pendek:

"Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku."

Hamka langsung bertanya pada sang ajudan.

Di mana?

Di mana beliau sekarang?

Dengan pelan dijawab:

"Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso."

Mata sang Buya menjadi sayu dan berkaca-kaca.

Rasa rindunya ingin bertemu dengan tokoh besar negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara.

Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Soekarno.

Untaian do'a yang lembut dan tulus dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Indonesia.

Terima kasih Buya, atas pembelajaran kehidupan dari cerita hidupmu. (*)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

lainnya