• Jumat, 13-11-2020 • 12:00 WIB

Eksistensi Pemimpin dalam Pengambilan Keputusan

Bayu Destriawan SPd*

*Guru SMPN 1 Payakumbuh dan Mahasiswa Pascasarjana IAIN Batusangkar

<p>Eksistensi Pemimpin dalam Pengambilan Keputusan<p>

Kebijakan dan pengambilan keputusan merupakan dua elemen yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kebijakan lebih teoritis, sedangkan pengambilan keputusan lebih praktis. Tindakan pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan teori akan mengurangi nilai ilmiah dari keputusan tersebut, dan kebijakan yang tidak menyertai keputusan sulit akan terbentuk.

Pengambilan keputusan sangat mendesak bagi setiap orang, terutama para pemimpin atau manajer. Eksistensi pemimpin dapat dilihat dari berbagai kebijakan dan keputusan yang diambil oleh pemimpin. Seorang pemimpin atau manajer yang efektif adalah pemimpin atau manajer yang dapat membuat kebijakan dan membuat keputusan yang relevan. Nawawi (1993: 55-56) mengatakan bahwa organisasi hanya akan berfungsi jika para pemimpin memiliki kemampuan mengambil keputusan dan memerintahkan pelaksanaannya kepada anggota organisasi sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawabnya.

Pemahaman di atas memberikan setidaknya dua poin penting yang perlu dipahami, pertama, pengambilan keputusan harus didasarkan pada pertimbangan logis sehingga semua pihak yang menjadi tujuan keputusan dapat menerima keputusan tersebut. Kedua, pengambilan keputusan tersebut akan menghasilkan satu atau lebih keputusan, yang dapat digunakan sebagai garis besar untuk pekerjaan, karier, atau kepemimpinan.


Berangkat dari pengertian di atas pengertian kebijakan pendidikan adalah keseluruhan proses dan hasil perumusan langkah-langkah strategis pendidikan. Langkah-langkah strategis pendidikan tersebut dijabarkan dari sudut pandang visi dan misi, dan tujuannya adalah untuk mencapai perwuju dan tujuan pendidikan sosial dalam kurun waktu tertentu.

Sedangkan keputusan adalah pengakhiran daripada proses pemikiran tentang apa yang dianggap sebagai "masalah" sebagai sesuatu yang merupakan penyimpangan daripada yang dikehendaki, direncanakan atau dituju dengan menjatuhkan pilihan pada salah satu alternatif pemecahannya (Atmosudirdjo, 1990: 45). Dapat dijelaskan bahwa pengambilan keputusan adalah memilih dan menentukan pilihan yang paling sesuai dari pilihan tertentu. Keputusan semacam itu harus fleksibel, analitis, dan dapat dilaksanakan sambil mendorong ketersediaan infrastruktur dan sumber daya yang tersedia.

Dasar pengambilan keputusan itu bermacam-macam, tergantung dari permasalahannya. Keputusan dapat diambil berdasarkan perasaan semata-mata, dapat pula keputusan dibuat berdasarkan rasio. Selain tergantung kepada permasalahannya, pengambilan keputusan juga tergantung kepada individu yang membuat keputusan. Atas dasar hal ini, Terry (dalam Syamsi, 2000: 16-17) mengemukakan beberapa dasar pengambilan keputusan, yaitu: (1) pengambilan keputusan berdasarkan intuisi, (2) pengambilan keputusan berdasarkan rasional, (3) pengambilan keputusan berdasar-kan fakta, (4) pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman dan (5) pengambilan keputusan berdasarkan wewenang.

Sedangkan dalam konteks pendidikan Islam, hal terpenting yang harus diperhatikan dalam proses pengambilan keputusan adalah bagaimana mengambil keputusan berdasarkan musyawarah mufakat. Karena dalam kehidupan beragama Islam, setiap masalah yang dihadapi selalu dipertimbangkan dengan cermat dalam setiap keputusan. Dalam setiap proses pengambilan keputusan sangat perlu untuk mempertimbangkan dan berbagi tanggung jawab untuk musyawarah sehingga setiap keputusan yang dikeluarkan akan menjadi tanggung jawab bersama.

Dalam setiap proses pengambilan keputusan, musyawarah juga harus menjadi jalan yang ditempuh oleh dunia pendidikan. Semua pihak yang terlibat di bidang pendidikan, seperti pendidik, peserta didik, orang tua dan masyarakat, harus dilibatkan, sehingga semua aspek tersebut dapat diterima. Dan melaksanakan semua keputusan dengan benar, karena setelah melalui pertimbangan yang matang, ada beberapa keutamaan yang sangat cocok jika diterapkan dalam pendidikan.

Secara garis besar pengambilan keputusan ada dua jenis, yaitu pengambilan keputusan individu dan pengambilan keputusan kelompok. Tentu saja, kedua jenis pengambilan keputusan ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, jika seorang pemimpin atau manajer dapat memahami dan memahami prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan, kelemahan tersebut dapat diatasi.

Kemudian seorang pemimpin harus memiliki pegetahuan yang luas akan berbagai hal walaupun tidak secara mendalam. Pengetahuan tersebut bagi seorang pemimpin akan menjadi referensi dalam pengambilan keputusan. Pemimpin dapat dikatakan efektif apabila mampu menciptakan situasi yang dapat memberi inspirasi bagi para pengikutnya untuk mencapai tujuan yang lebih baik dan lebih tinggi lagi dari keadaan sekarang. Seorang pemimpin dapat dikatakan efektif apabila orang tersebut dapat membaca situasi, mengatasi

permasalahan, bertanggung-jawab, dan dapat mengembangkan pengikutnya. Pemimpin harus mempunyai kapabilitas, integritas dan etika yang baik serta rasa memiliki yang tinggi terhadap perusahaan atau lembaga, karena seorang pemimpin harus dapat memberikan contoh sebagai panutan orang yang dipimpinnya.

Pengambilan keputusan tidak bisa dilakukan seperti membalikkan telapak tangan. Pasalnya, keputusan tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi banyak aspek. Oleh karena itu, untuk mendapatkan keputusan yang akurat dan matang harus melalui tahapan-tahapan tertentu guna meminimalkan kemungkinan dampak negatif terhadap keputusan tersebut. (*)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

lainnya